Kompas.com - 23/03/2020, 16:00 WIB

"Rokok elektrik bahkan tidak ada lisensi dari lembaga yang memberi lisensi ACC atau tidak," ungkap Yusup.

Baca juga: Mengenal Gejala Penarikan Nikotin yang Bikin Susah Berhenti Merokok

Menurut dia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia pernah mendapati sejumlah senyawa berbahaya yang terkandung di dalam maupun yang dihasilkan rokok elektrik.

Beberapa zat berbaya itu, antara lain:

  • Tobacco-specific Nitrosamine (TSNAs) yang bersifat toksik
  • Diethylene Glycol (DEG) yang dikenal sebagai karsinogen
  • Logam berupa partikel timah, perak, nikel, aluminium, dan kromium di dalam uap elektrik dengan ukuran yang sangat kecil (nano-partikel) sehingga sangat mudah masuk ke dalam saluran napas di paru
  • Karbonil, yakni karsinogen potensial berupa formaldehida, asetaldehida, akrolein, dan senyawa organik volatil (VOCs) seperti toluena dan pm-xylene
  • Kumarin, tadalafil, rimonabant, serat silika yang dapat menjadi racun dan tidak memenuhi unsur keamanan
  • Diacetyl merupakan zat yang muncul sebagai sisa dari rokok elektrik adalah yang dapat merusak paru-paru
  • Zat benzene juga dilaporkan muncul dari rokok elektronik. Benzene diketahui adalah zat beracun yang bisa ditemui pada asap kendaraan bermotor dan logam berat

"Oleh sebab itu, klaim rokok elektrik bisa membantu berhenti atau mengurangi konsumsi rokok tembakau adalah sebuah kekeliruan sekarang. Rokok elektrik yang ada malah bikin makin kecanduan dan lebih membahayakan," tegas Yusup.

Baca juga: Harga Rokok Tahun 2020 Naik, Dokter: Saatnya Berhenti Merokok!

Menambah perokok aktif

dr. Yusup menilai keberadaan rokok elektrik justru berpotensi menambah jumlah perokok aktif.

Dia mendapati pengakuan dari banyak orang yang sebelumnya tidak pernah merokok akhirnya menjadi perokok karena tergiur dengan klaim awal penggunaan rokok elektrik yang aman.

Penambahan jumlah perokok akibat rokok elektrik disinyalir juga disokong oleh para mantan perokok “lawas” yang kembali merokok.

Di mana, para perokok tembakau yang sebenarnya sudah memutuskan berhenti merokok, akhirnya kembali merokok karena tergiur dengan adanya alternatif rokok elektrik.

“Sama seperti yang terkandung pada rokok konvensional, nikotin pada rokok elektrik dapat membuat para penggunanya memiliki keinginan berlebih untuk merokok, dan mengalami gejala tertentu saat keinginannya itu tidak terpenuhi,” jelas Yusup.

Yusup menganjurkan para pengguna rokok elektrik maupun rokok konvensional segera berhenti melakukan kebiasaan merokok karena merugikan diri sendiri dan orang lain.

"Bahaya merokok ini memang tidak langsung terasa setelah merokok. Butuh waktu di atas 10 tahun dan yang jelas semakin banyak jumlah rokok yang dihisap, maka semakin berbahaya pula," terang Yusup.

Baca juga: Benarkah Merokok Setelah Makan Paling Berbahaya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.