Kompas.com - 15/10/2020, 10:45 WIB

KOMPAS.com - Berkeringat adalah bagian normal dari tubuh agar sistem regulasi di dalamnya berjalan lancar.

Selain untuk menetralkan suhu inti, berkeringat juga membantu proses pengeluaran racun dalam tubuh.

Akan tetapi, jumlah dan kapan waktu kita berkeringat yang kita keluarkan juga bisa menentukan kondisi kesehatan kita.

Menurut ahli medis dari Cleveland Clinic, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi jumlah keringat dan kapan kita berkeringat.

"Mulai dari menopause, stres hingga kecemasan bisa memicu produksi keringat. Semua itu bisa menunjukan kondisi medis serius," ucap Ward.

Baca juga: 9 Jenis Makanan yang Baik untuk Penderita Depresi

Gejala serangan jantung saat tidur, seperti nyeri dada dan muncul keringat dingin penting dikenali untuk dapat dikonsultasikan segera dengan dokter.

Jenis keringat

Tanpa kita sadari, keringat yang dikelaurkan oleh manusia ternyata memiliki dua jenis. Berikut jenis-jenis tersebut:

- Keringat biasa atau ekrin

Keringat ini biasanya muncul saatkita aktif beraktivitas di musim panas.

Keringat jenis ini biasanya encer dan tidak berbau. Fungsi keringat jenis ini berguna untuk menyeimbangkan suhu tubuh.

- Keringat stres atau apokrin

Jenis keringat ini bersifat kental dan mengandung lemak. Biasanya, keringat apokrin diproduksi saat stres dan berasal dari akar rambut tubuh di area ketika, kulit, kepala, dan pangkal paha.

Penyebab keringat beraroma tak sedap

Ward mengatakan keringat umumnya tidak memiliki aroma. Namun, keringat bisa beraroma tak sedap ketika mengalami kontak dengan bakteri di kulit.

"Bakteri di kulit memakan partikel organik dalam keringat dan mengeluarkan gas pencernaan. Inilah yang memicu bau busuk," tambah Ward.

Bakteri apokrin yang bersentuhan dengan bakteri kulit tentu akan menimbulkan aroma busuk yang semakin parah.

Hal ini merupakan bagian respons ekstrem tubuh terhadap situasi stres.

Yang mempengaruhi jumlah keringat

Setiap orang memiliki jumlah keringat yang berbeda-beda, tergantung kondisi tubuh dan situasi yang sedang dihadapinya.

Namun, seseorang juga bisa mengalami produksi keringat berlebih, yang disebut dengan hiperhidrosis.

Menghimpun data Healthline, hiperhidrosis dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi, seperti gula darah rendah dan gangguan sistem saraf atau tiroid.

Baca juga: 4 Cara Mudah Cegah Penyakit Jantung

Keluarnya keringat yang terlalu berlebihan juga bisa mengindikasikan masalah medis yang serius, seperti serangan jantung.

Hal ini juga terkait dengan masalah metabolisme tertentu, seperti diabetes dan beberapa kondisi tiroid. Itu bisa terjadi dengan beberapa jenis kanker.

Sedangkan produksi keringat yang terlalu sedikit dikenal dengan istilah anhidrosis.

Kondisi ini bisa menyebabkan suhu tubuh terlalu tinggi dan membahayakan nyawa.

Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti luka bakar, dehidrasi, dan beberapa gangguan saraf dan kulit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.