KOMPAS.com - Anemia secara sederhana dapat dipahami sebagai kekurangan sel darah merah yang mengangkut oksigen ke jaringan tubuh atau kekurangan protein yang disebut hemoglobin yang dibutuhkan sel darah merah untuk mengangkut oksigen.
Anemia sering kali tidak disadari.
Jika gejala anemia memang muncul, pada umumnya ringan.
Baca juga: 3 Cara Cegah Anemia Pada Anak, Orangtua Wajib Tahu
Dilansir dari Health Line, dalam beberapa kasus, seseorang dengan anemia mungkin akan merasa lelah atau lesu.
Sementara orang lain mungkin akan mengalami kesulitan berkonsentrasi atau sesak napas saat berolahraga atau melakukan aktivitas yang cukup berat.
Dalam kasus yang lebih parah, gejala anemia dapat meliputi:
Melansir Medical News Today, secara umum ada tiga jenis utama anemia yang dibedakan berdasarkan penyebabnya.
Apa saja?
Jenis anemia yang terakhir inilah yang biasa disebut sebagai anemia defisiensi besi.
Baca juga: 12 Makanan yang Mengandung Zat Besi Tinggi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh situasi kehidupan sehari-hari seperti menstruasi, kehamilan, dan menyusui. Itu mengapa suplemen zat besi sering diresepkan untuk wanita.
Anak-anak juga dapat berisiko mengalami anemia defisensi besi karena banyak yang memulai hidup dengan asupan zat besi rendah dan tidak mendapatkan cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Anemia defiesiensi besi termasuk jarang terjadi pada pria sehat dan wanita pascamenopause.
Jika anemia defisiensi besi terjadi pada dua kelompok orang ini, hal itu bisa menunjukkan penyebab mendasar yang lebih serius.
Kanker adalah salah satu kondisi yang layak diwaspadai sebagai penyebab anemia, terutama pada orang berusia di atas 50 tahun yang berisiko lebih besar terkena penyakit ini.
Baca juga: Leukemia (Kanker Darah): Gejala, Penyebab, Jenis, Pengobatan
Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen penderita kanker akan mengalami anemia pada saat didiagnosis dengan hampir setengahnya mengalami anemia defisiensi besi.