Kompas.com - 08/09/2021, 14:00 WIB

Para peneliti berusaha untuk memperhitungkan sebanyak mungkin variabel pengganggu, termasuk tingkat pendidikan rata-rata, tingkat merokok, total kalori yang dikonsumsi, uang yang dihabiskan untuk perawatan kesehatan, persentase populasi di atas 65 tahun, dan produk domestik bruto per kapita.

Semua variabel ini secara signifikan lebih rendah di negara-negara yang penduduknya paling banyak makan nasi.

Namun, setelah memperhitungkan hal ini dalam analisis mereka, para peneliti menemukan bahwa pengaruh positif nasi terhadap obesitas tetap ada.

Mereka melihat bahwa orang yang mengonsumsi nasi dapat mengurangi obesitas global sebesar 1 persen.

Kepala peneliti, Prof. Tomoko Imai, pun mengatakan bahwa nasi dapat mencegah diabetes.

Hal ini disebabkan adanya serat, nutrisi, dan senyawa tanaman yang ditemukan dalam nasi.

Prof. Imai menambahkan, “nasi juga rendah lemak dan memiliki kadar glukosa darah postprandial yang relatif rendah, yang menekan sekresi insulin.”

Namun, jenis nasi yang dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap tingkat penurunan obesitas.

Melansir dari Healthline, nasi merah lebih efektif untuk menurunkan berat badan dan mengatasi obesitas.

Orang yang makan biji-bijian seperti nasi merah telah berulang kali terbukti memiliki berat badan lebih sedikit daripada mereka yang tidak.

Baca juga: Fakta Nutrisi Kentang, Karbohidrat Pengganti Nasi

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.