Kompas.com - 28/06/2022, 10:01 WIB

KOMPAS.com - Cerebral palsy adalah kerusakan otak yang mengganggu kinerja otot, kontraksi otot, postur, gerakan, keseimbangan, dan koordinasi tubuh.

Dilansir dari CerebralPalsyGuide, masalah kesehatan ini merujuk pada namanya yang berarti gangguan fungsi motorik otak dan membuat sebagian anggota tubuh lumpuh.

“Cerebral” berarti serebrum atau bagian otak yang mengatur fungsi motorik. Sedangkan “palsy” artinya kelumpuhan sebagian tubuh.

Penyebab cerebral palsy bisa berasal dari masalah kesehatan sejak anak masih dalam kandungan, masalah saat persalinan, atau pada tahun-tahun pertama kehidupan ketika otak masih berkembang pesat. Simak penjelasan berikut.

Baca juga: Kenali Apa itu Cerebral Palsy, Penyebab Gangguan Perkembangan Anak

Penyebab cerebral palsy

Cerebral palsy disebabkan kerusakan atau perkembangan abnormal pada bagian otak yang mengontrol gerakan tubuh. Berikut beberapa faktornya:

  • Kerusakan materi putih otak sejak janin di dalam kandungan

Dilansir dari NIH, materi putih otak berfungsi untuk mengirimkan sinyal ke seluruh otak dan tubuh. Ketika ada kerusakan, fungsi otak bisa terganggu, termasuk memicu cerebral palsy. Kondisi ini rentan terjadi saat usia kandungan memasuki 26 minggu sampai 34 minggu.

  • Stroke saat janin di dalam kandungan

Janin di dalam kandungan bisa mengalami stroke dan menyebabkan cerebral palsy. Penyebab stroke di dalam kandungan ini bisa karena masalah pembekuan darah, pembuluh darah abnormal, cacat jantung, dan penyakit sel sabit.

  • Janin terdampak infeksi selama kehamilan

Ibu hamil yang terkena infeksi virus dan bakteri selama kehamilan berisiko melahirkan bayi dengan cerebral palsy. Infeksi bisa meningkatkan protein sitokin di otak dan darah janin di dalam kandungan. Sitokin bisa menyebabkan peradangan dan merusak otak bayi. Infeksi ini di antaranya cacar air, rubella, cytomegalovirus (CMV), atau radang panggul.

Baca juga: 7 Gangguan Tumbuh Kembang Anak yang Perlu Diwaspadai

  • Ibu hamil punya masalah kesehatan tertentu

Ibu hamil dengan penyakit tiroid, disabilitas intelektual, dan riwayat kejang berisiko tinggi melahirkan bayi dengan cerebral palsy.

  • Bayi lahir dengan berat badan rendah

Dilansir dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), bayi yang lahir dengan berat badan rendah (kurang dari 2,5 Kilogram) memiliki risiko lebih tinggi terkena cerebral palsy dibandingkan bayi lahir dengan berat badan normal.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.