Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/04/2023, 11:30 WIB
Shintaloka Pradita Sicca

Penulis

KOMPAS.com - Muncul sub-varian baru Covid-19 bernama Arcturus yang perlu kita waspadai dengan bijak.

Varian ini disebut sebagai penyebab peningkatkan kasus Covid-19 di India pada April 2023.

Mengutip The Independent, Kementerian Kesehatan India melaporkan kasus Covid-19 aktif per 12 April ada sebanyak 40.215. Angka ini naik 3.122 hanya dalam satu hari.

Baca juga: Rekam Jejak 10 Varian Covid-19 dari Alpha hingga Omicron

Di Indonesia, pada Kamis (13/4/2023), Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa varian Covid-19 Arcturus sudah masuk ke negara kita.

Pernyataan otoritas kesehatan ini mengacu pada hasil penelusuran genome squencing per akhir Maret 2023.

"Sampai saat ini sudah ada dua kasus (varian Covid-19 Arcturus) yang ditemukan," demikian kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril pada Kamis (13/4/2023), seperti yang dikutip dari Antara.

Baca juga: Mengenal Kraken, Sub-Varian Covid-19 Terbaru yang Paling Menular

Pada 29 Maret 2023 dalam konferensi pers Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis WHO untuk Covid-19 mengatakan bahwa varian Covid-19 Arcturus sudah beredar.

"Ini sudah beredar selama beberapa bulan," kata Kerkhove saat itu, seperti yang dikutip dari The Independent.

Oleh karena itu, mari kita bijak mewaspadai dengan mengenal apa itu Arcturus beserta gejalanya.

Baca juga: Berkontribusi Tangani Covid-19, Aplikasi Good Doctor Raih Penghargaan

Apa itu Arcturus?

Menurut WHO, Arcturus adalah salah satu dari 600 sub-varian Omicron. Arcturus disebut juga sebagai subvarian Omicron XBB.1.16.

Subvarian Omicron XBB.1.16 ini pertama kali diidentifikasi pada Januari 2023 dan mulai dipantau oleh WHO sejak 22 Maret.

Sejauh ini, Arcturus telah terdeteksi di 22 negara, termasuk India, Inggris, AS, dan Indonesia.

Varian baru Covid-19 ini memiliki satu mutasi tambahan pada spike protein, yang dalam penelitian laboratorium menunjukkan peningkatan infeksivitas serta potensi peningkatan patogenisitas.

Baca juga: Potensi Pengobatan Baru Covid-19 untuk Cegah Sakit Parah

Namun, WHO belum melihat ada perubahan yang bisa menyebabkan peningkatan keparahan penyakit pada individu atau populasi.

Para ilmuwan di Universitas Tokyo membandingkan subvarian Kraken dan Arcturus. Hasilnya adalah varian Covid-19 terbaru ini bisa menyebar sekitar 1,17 hingga 1,27 kali lebih efisien dari pada kerabatnya.

Hasil pengamatan mereka juga menilai bahwa varian baru Covid-19 Arcturus lebih sangat kebal terhadap antibodi yang tertinggal di tubuh dari infeksi Covid-19 sebelumnya.

Baca juga: 10 Gejala Covid-19 Varian Kraken yang Sudah Terdeteksi di Indonesia

Apa gejala Covid-19 varian Arcturus?

Mengutip Economic Times, saat ini tidak ada data kuat yang membuktikan apakah varian Covid-19 Arcturus menyebabkan serangkaian gejala baru pada anak dan pasien secara umum.

Dr SK Nakra, Konsultan Dokter Umum Anak Madhukar Rainbow Children's Hospital mengatakan gejala varian baru Covid-19 Arcturus bisa meliputi:

  • Demam tinggi
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Pilek
  • Sakit kepala
  • Nyeri badan
  • Gejala gastrointestinal atau gangguan pencernaan
  • Mata lengket merah dan gatal (konjungtivitis)

Baca juga: IDI Jelaskan Manfaat Penting Vaksin Booster Covid-19 Kedua

Laporan konjungtivitis meningkat pada kasus Covid-19 saat ini. Di kasus varian sebelumnya, gejala ini sebenarnya sudah muncul sekitar 1-3 persen pada pasien Covid-19.

Namun, belum bisa dikatakan bahwa konjungtivitis menjadi ciri khas pada kasus varian Covid-19 Arcturus.

Dengan mengetahui asal-usul dan gejala Covid-19 varian baru ini, ada baiknya kita tetap peduli untuk menjaga protokol kesehatan demi keselamatan dan kenyamanan diri dan orang lain.

Baca juga: 7 Jenis Vaksin Covid-19 Booster Kedua untuk Masyarakat Umum

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com