Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 31/05/2023, 06:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Broken heart syndrome atau sindrom patah hati umumnya disebabkan oleh situasi yang memicu rasa stres dan emosi yang ekstrem.

Namun, kondisi ini juga bisa dipicu oleh penyakit yang lebih serius sehingga perlu diatasi secara medis.

Untuk lebih memahaminya, ketahui penyebab sindrom patah hati berikut ini.

Baca juga: Mengenal Apa itu Sindrom Patah Hati, Gejala, dan Penyebabnya

Penyebab sindrom patah hati

Dilansir dari Mayo Clinic, penyebab sindrom patah hati tidak diketahui secara pasti.

Gejala serangan jantung saat tidur, seperti nyeri dada dan muncul keringat dingin penting dikenali untuk dapat dikonsultasikan segera dengan dokter.

Namun, banyak ahli yang berpendapat bahwa hormon stres yang diproduksi setelah mengalami situasi tertentu atau merasakan emosi yang ekstrem, bisa memicu kerusakan jantung sementara, seperti:

  • Mengalami gangguan kesehatan yang tiba-tiba terjadi, seperti serangan asma
  • Melakukan prosedur operasi yang berat
  • Patah tulang yang tiba-tiba dialami
  • Kematian orang yang dicintai, atau jenis kehilangan yang lainnya
  • Berada pada situasi yang memicu argumen yang intens

Konsumsi obat juga terkadang bisa memicu terjadinya sindrom patah hati, seperti:

  • Obat untuk kondisi gawat darurat yang digunakan untuk mengatasi reaksi alergi atau serangan asma yang parah
  • Beberapa jenis obat untuk mengatasi gangguan kecemasan
  • Dekongestan untuk mengatasi hidung tersumbat
  • Jenis obat-obatan terlarang, seperti kokain

Beberapa kondisi dan konsumsi obat-obatan tersebut bisa menyempitkan arteri di jantung untuk sementara sehingga menyebabkan nyeri dada yang tiba-tiba yang mirip dengan gejala serangan jantung.

Kondisi ini juga akan mengubah struktur otot jantung sehingga bisa mengganggu kerja jantung untuk memompa darah.

Namun menurut Cleveland Clinic, sindrom patah hati berbeda dengan serangan jantung karena kondisi ini tidak menyebabkan kerusakan jantung secara permanen.

Penderita sindrom patah hati juga bisa sembuh total dalam waktu yang lebih cepat.

Baca juga: 7 Gejala Sindrom Patah Hati yang Mirip Serangan Jantung

Kapan harus ke dokter?

Gejala sindrom patah hati mirip dengan gejala serangan jantung, seperti nyeri di dada dan napas pendek.

Anda diimbau untuk segera mencari bantuan medis ketika rasa nyeri di dada tiba-tiba datang dan tidak kunjung membaik.

Anda juga perlu segera ke dokter ketika irama jantung meningkat atau tidak beraturan, atau memiliki napas pendek.

Dengan mengetahui penyebab sindrom patah hati tersebut, Anda bisa melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Hindari melakukan diagnosis pribadi karena diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah kondisi yang dialami merupakan gejala sindrom patah hati atau serangan jantung.

Baca juga: 5 Perbedaan Sindrom Patah Hati dan Serangan Jantung

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com