Kompas.com - 25/09/2013, 13:38 WIB
Ginan, bayi kembar siam parasit yang kini di rawat di ruang Neonatal Intensiv Care Unit (NICU), RSHS Bandung, Senin (23/9/2013). Istilah medisnya conjoint twin parasitic. Saat lahir, berat badan Ginan dan kembarannya mencapai 3,8 kilogram. Tribun Jabar/Siti FatimahGinan, bayi kembar siam parasit yang kini di rawat di ruang Neonatal Intensiv Care Unit (NICU), RSHS Bandung, Senin (23/9/2013). Istilah medisnya conjoint twin parasitic. Saat lahir, berat badan Ginan dan kembarannya mencapai 3,8 kilogram.
|
EditorAsep Candra
KOMPAS.com - Penanganan bayi kembar siam termasuk kembar siam parasit (conjoined twin parasitic) pada kasus bayi Ginan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung membutuhkan keterlibatan banyak ahli. Jika ditemukan adanya kelainan lain pada bayi, akan semakin banyak ahli yang terlibat untuk menangani bayi yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai bayi risiko tinggi ini.

Dokter spesialis anak dari Divisi Perinatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dr Rosalina Dewi Roeslani SpA(K) menjelaskan, pada bayi kembar siam biasanya tim ahli minimal terdiri dari dokter anak, dokter anestesi, dan dokter bedah anak. Meski begitu, dokter ahli lain bisa terlibat tergantung dari kondisi kembar siam tersebut.

Menurutnya, kondisi penempelan bayi juga menentukan dokter ahli yang akan dilibatkan dalam menangani kembar siam. Kalau dokter juga menemukan adanya kelainan atau masalah misal pada jantung, maka dokter spesialis jantung juga akan terlibat. Bagian pencitraan, laboratorium, perinatologi, dokter anak sub spesialisasi neurologi dan pediatri sosial juga bisa dilibatkan.

"Tim dokter ahli yang dibentuk untuk menangani bayi lahir kembar siam atau kembar siam parasit, akan mempelajari kondisi bayi dan melakukan evaluasi jam per jam. Kemudian, jika tim dokter menemukan ada kelainan atau masalah, tim dokter melakukan rapat untuk membulatkan suara dalam memberikan penanganan tepat," ungkap  Rosi (sapaan akrabnya) kepada Kompas Health di Jakarta.

Pada penanganan bayi kembar parasit seperti kasus Ginan misalnya, tim dokter ahli akan memperhitungkan berbagai risiko. Apalagi terkait penempelan pada area mulut.

Menurut Rosi, biasanya pembedahan untuk memisahkan bayi kembar siam dilakukan saat kondisi bayi sudah lebih stabil, yakni pada usia antara 3-5 bulan. Namun pada kasus Ginan, jika bayi yang tidak berkembang sempurna berada di mulut, dan menganggu keluar masuknya makanan minuman pada bayi yang lahir sempurna, pembedahan bisa saja dilakukan pada usia neonatus atau 0-30 hari setelah dilahirkan.

"Bayi kembar siam bisa dioperasi setelah melewati masa neonatus. Karena semakin besar kondisi bayi lebih stabil. Namun jika sebelum lima bulan misalnya, kondisinya memburuk, pembedahan untuk memisahkan bayi kembar siam bisa dilakukan. Operasi bisa segera dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya," paparnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penanganan dan perawatan bayi kembar siam termasuk kembar siam parasit bisa dilakukan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU).

Jika pemisahan bayi kembar parasit dilakukan pada usia neonatus, bayi langsung menjalani perawatan NICU selama dua minggu hingga satu bulan, sampai bayi bisa minum dengan baik. Namun jika operasi pemisahan kembar siam parasit dilakukan saat bayi berusia di atas tiga bulan, bayi kemudian menjalani perawatan PICU.

Prosedur perawatan ini penting dijalani karena bayi kembar siam yang termasuk dalam kategori bayi risiko tinggi mudah terkena risiko infeksi, seperti infeksi sirkulasi pernapasan. Dengan perawatan tepat, kondisi bayi bisa terus terpantau apakah membutuhkan terapi oksigen ringan atau berat jika ternyata mengalami infeksi saluran pernapasan. Suhu tubuh bayi juga bisa terpantau, apakah mengalami Hipotermia (suhu tubuh bayi di bawah 36,5 derajat Celcius) atau Hipertermia (suhu tubuh bayi di atas 37,5 derajat Celcius).

Tak hanya memantau kondisi fisik bayi risiko tinggi, perawatan NICU/PICU juga membantu pemantauan tumbuh kembang anak. Perawatan NICU/PICU melibatkan dokter anak sub spesialisasi pediatri sosial untuk memastikan tumbuh kembang anak lebih optimal. Pasalnya, bayi risiko tinggi memiliki kecenderungan mengalami gangguan tumbuh kembang.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Psikopat

Psikopat

Penyakit
7 Makanan untuk Mencegah Osteoporosis

7 Makanan untuk Mencegah Osteoporosis

Health
Midriasis

Midriasis

Penyakit
13 Penyebab Kelemahan Otot yang Perlu Diwaspadai

13 Penyebab Kelemahan Otot yang Perlu Diwaspadai

Health
Fibromyalgia

Fibromyalgia

Health
3 Jenis Anemia yang Umum Terjadi pada Ibu Hamil

3 Jenis Anemia yang Umum Terjadi pada Ibu Hamil

Health
Hepatitis B

Hepatitis B

Penyakit
4 Penyebab Eksim yang Perlu Diwaspadai

4 Penyebab Eksim yang Perlu Diwaspadai

Health
Perikarditis

Perikarditis

Penyakit
3 Jenis Makanan Tinggi Kolesterol yang Tetap Baik Dikonsumsi

3 Jenis Makanan Tinggi Kolesterol yang Tetap Baik Dikonsumsi

Health
Kusta

Kusta

Penyakit
11 Penyebab Pendarahan saat Melahirkan

11 Penyebab Pendarahan saat Melahirkan

Health
Osteoporosis

Osteoporosis

Penyakit
10 Penyebab Darah dalam Urine yang Perlu Diwaspadai

10 Penyebab Darah dalam Urine yang Perlu Diwaspadai

Health
Ulkus Kornea

Ulkus Kornea

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.