Kompas.com - 10/03/2014, 10:48 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com – Kehamilan sangat diharapkan selalu dalam kondisi baik dan sehat. Namun, tanpa sepengetahuan ibu bisa tejadi infeksi kongenital yang mengganggu tumbuh kembang janin bahkan berakibat janin lahir cacat.
 
“Untuk infeksi kongenital yang paling penting adalah pencegahan, misal vaksin. Selain itu ibu tidak boleh meremehkan kondisi tubuhnya. Berbagai infeksi berbahaya bisa ditandai hanya demam, pusing, atau sedikit pegal,” kata dokter ahli kandungan dan kebidanan, Ridwan, dalam kelas parenting New Parent Academy, di Jakarta, Minggu (9/3/2014). 
 
Berikut berbagai infeksi kongenital yang mungkin terjadi dan cara mencegahnya:
 
* Rubella varicella (cacar air) dan hepatitis B
Cacar air memang tidak berbahaya jika menginfeksi ibu, namun berbeda dampaknya terhadap janin yang dikandung. Ridwan mengatakan, ibu hamil yang terkena cacar air berisiko keguguran atau memiliki janin terlahir cacat.
 
Cacar air memang tidak bisa diobati sempurna selain dengan penurun demam atau pereda nyeri. Penyakit ini bisa dicegah dengan vaksinasi sebelum hamil.

“Vaksin rubella harus diberikan satu bulan sebelum konsepsi, dan tidak boleh dilakukan saat hamil. Bila perlu sebelum menikah lakukan vaksin, karena calon ibu kebanyakan tidak tahu kapan dirinya hamil,” kata Ridwan.

 
Hal serupa terjadi pada hepatitis B yang bisa menginfeksi janin melalui darah ibu. Penularan Hepatitis B bisa dicegah dengan pemberian vaksin, yang bisa diberikan pada ibu hamil. Tanpa vaksin, janin yang dari ibu dengan hepatitis B berisiko terkena cacat bawaan.
 
* HIV
Human Immunodeficieny Virus (HIV) adalah penyebab terjadinya AIDS. HIV ini bisa menyusup dalam rantai DNA manusia, sehingga bisa menurunkan virus dari ibu dengan ke anak. Meski begitu penularan HIV bisa dicegah.
 
“Meski masih terdengar awam calon ibu sebaiknya melakukan test HIV. Bila diketahui ibu terkena HIV positif maka anak bisa segera melakukan terapi, untuk mencegah penularan,” kata Ridwan. 
 
Terapi ini menggunakan zidovudine (AZT) yang merupakan obat untuk terapi anti retroviral (ART) yang mencegah penularan HIV. Obat AZT tersedia dalam berbagai merek dagang dan dosis, dalam bentuk pil atau cairan. AZT diberikan berdasarkan berat badan sebanyak 2-3 kali sehari.
 
Terapi AZT mulai diberikan pada semester dua kehamilan hingga anak berusia 4-6 minggu. Terapi ini menurunkan kemungkinan penularan dari 3 bayi per 12 kelahiran, menjadi satu bayi per 12 kelahiran.
 
* Toksoplasmosis dan sitomegalovirus
Kedua penyakit ini tidak memiliki vaksin untuk mencegah penularan. Namun, penyakit bisa dicegah dengan menjaga kebersihan.

“Kebersihan menjadi yang utama untuk mencegah penularan toksoplasmosis dan sitomegalovirus. Selama hamil pastikan lingkungan selalu bersih dan rutin kontrol,” kata Ridwan.

 
Toksoplasmosis dikenal menular lewat kotoran kucing, padahal virus ini juga bisa menginfeksi melalui makanan dan minuman. Ridwan menyarankan calon ibu dan orang di sekitarnya selalu menggunakan sarung tangan, dan mencuci serta memasak sayur atau buah dengan baik sebelum disantap. Sedangkan untuk kotoran kucing harus dibuang sebelum 24 jam. Virus tokso berisiko menyebabkan cacat bawaan pada bayi.
 
Sementara sitomegalovirus disebabkan virus yang tersebar luas, dan umum menginfeksi sebelum atau setelah kelahiran janin. Serangan virus mirip herpes yang ditandai panas hingga 38 derajat Celcius tanpa batuk atau pilek. Sitomegalovirus berisiko menyebabkan cacat otak hingga kematian bayi.
 
Serangan sotomegalovirus bisa dicegah dengan sesering mungkin cuci tangan, terutama bila sering kontak dengan bayi. Orang dewasa tidak boleh menggunakan peralatan makan yang sama dengan anak, dan meminimalkan kontak lewat air mata atau air liur.
 

 
 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Coxsackie
Coxsackie
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

Health
Splenomegali

Splenomegali

Penyakit
4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

Health
Orkitis

Orkitis

Penyakit
14 Tips Merawat Kaki Penderita Diabetes

14 Tips Merawat Kaki Penderita Diabetes

Health
Venustraphobia

Venustraphobia

Penyakit
10 Makanan dan Minuman untuk Redakan Sakit Perut

10 Makanan dan Minuman untuk Redakan Sakit Perut

Health
Hernia Epigastrium

Hernia Epigastrium

Penyakit
Kenali 11 Ciri-ciri Asam Lambung Naik

Kenali 11 Ciri-ciri Asam Lambung Naik

Health
Insufisiensi Trikuspid

Insufisiensi Trikuspid

Penyakit
Apakah Kerusakan Saraf Akibat Diabetes Bisa Disembuhkan?

Apakah Kerusakan Saraf Akibat Diabetes Bisa Disembuhkan?

Health
Eritema Multiforme

Eritema Multiforme

Penyakit
7 Obat Batuk Alami ala Rumahan yang Patut Dicoba

7 Obat Batuk Alami ala Rumahan yang Patut Dicoba

Health
Pahami, Cara Meningkatkan Kekuatan Jantung

Pahami, Cara Meningkatkan Kekuatan Jantung

Health
13 Cara Alami Obati Penyakit Asam Urat

13 Cara Alami Obati Penyakit Asam Urat

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.