Kompas.com - 02/07/2014, 07:12 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

- Pembekuan sel telur
Walau pembekuan sel telur sudah dipakai dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kini para ilmuwan sudah menemukan cara untuk membekukan sel telur dengan kerusakan minimal.

Dahulu, sel telur akan dibekukan dengan lambat, tetapi karena sel telur mengandung banyak air, maka airnya akan membentuk kristal selama proses pembekuan ini dan merusak struktur sel. Dengan teknik terbaru, sel telur akan dibekukan dalam waktu singkat sehingga tidak sampai terjadi pengkristalan. Dengan teknik yang disebut dengan vitrification ini, sel telur akan memiliki kualitas sama dengan yang baru diambil dari indung telur.

"Di masa depan, bukan tidak mungkin seorang wanita bisa menyimpan sel telurnya sejak mereka berusia 20-an tahun. Apalagi seiring dengan bertambahnya usia, risiko kerusakan kromosom meningkat," kata Dr.Bala Bhagavath, dari Strong Fertility Center, AS.

- Penggunaan hormon lebih sedikit
Dalam program bayi tabung, seorang wanita harus menerima suntikan hormon setiap hari selama 2 minggu untuk merangsang ovarium memproduksi lebih banyak sel telur. Tindakan ini menyebabkan efek samping, seperti kembung, nyeri perut, gangguan mood, sakit kepala, dan nyeri akibat suntikan.

Tetapi kini dikembangkan teknik pematangan sel telur dengan dosis hormon lebih kecil dan sedikit suntikan. Dengan demikian, biayanya pun akan lebih murah dan efek sampingnya sedikit.

- Pemeriksaan genetik untuk cegah kanker
Karena para ilmuwan terus melakukan penelitian gen untuk penyakit, bukan tidak mungkin pemeriksaan genetik untuk program bayi tabung akan memasuki babak baru. Dokter kelak akan mengecek gen mana yang menyebabkan kanker atau gen yang bisa memperpanjang umur.

- "Desainer" bayi
Walau tekonologi deteksi genetik meningkatkan kemungkinan "menciptakan bayi" yang unggul, tetapi para ahli mengingkatkan bahwa prosesnya tidak semudah itu. Bakat yang ingin kita wariskan kepada anak, seperti kecerdasan atau kemampuan atletik, ternyata sangat kompleks dan masih butuh penelitian untuk memahami gen mana yang berperan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Alami Keringat Dingin? Kenali 7 Penyebabnya

Alami Keringat Dingin? Kenali 7 Penyebabnya

Health
Pahami, Kaitan Pola Makan dengan Risiko Diabetes Tipe 2

Pahami, Kaitan Pola Makan dengan Risiko Diabetes Tipe 2

Health
8 Penyebab Memar Tanpa Sebab Jelas, Bisa Jadi Gejala Penyakit

8 Penyebab Memar Tanpa Sebab Jelas, Bisa Jadi Gejala Penyakit

Health
10 Obat Batuk Berdahak Alami ala Rumahan

10 Obat Batuk Berdahak Alami ala Rumahan

Health
5 Cara Mengatasi Kram Perut saat Hamil

5 Cara Mengatasi Kram Perut saat Hamil

Health
4 Cara Mencegah Diabetes Gestasional untuk Ibu Hamil

4 Cara Mencegah Diabetes Gestasional untuk Ibu Hamil

Health
Manfaat Makan Kacang Tanah untuk Penderita Diabetes

Manfaat Makan Kacang Tanah untuk Penderita Diabetes

Health
Cacat Septum Ventrikel

Cacat Septum Ventrikel

Penyakit
Makanan yang Harus Dihindari setelah Alami Keracunan Makanan

Makanan yang Harus Dihindari setelah Alami Keracunan Makanan

Health
Limfoma Sel Mantel

Limfoma Sel Mantel

Penyakit
Cara Hilangkan Kutu Rambut dengan Minyak Kelapa

Cara Hilangkan Kutu Rambut dengan Minyak Kelapa

Health
Pahami Pemicu dan Cara Mencegah Selulit

Pahami Pemicu dan Cara Mencegah Selulit

Health
Hidradenitis Supurativa

Hidradenitis Supurativa

Penyakit
Susu Almond vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Sehat?

Susu Almond vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Sehat?

Health
Sistokel

Sistokel

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.