Kompas.com - 06/03/2015, 10:59 WIB
Ilustrasi sarang lebah. ShutterstockIlustrasi sarang lebah.
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada banyak obat-obatan herbal yang dipercaya bisa meningkatkan kadar tromobosit yang rendah atau kurang dari 100.000 per mikroliter pada pasien demam berdarah dengue (DBD). Salah satu yang sudah dibuktikan lewat penelitian adalah ekstrak propolis.

Propolis adalah bahan perekat yang dikumpulkan dari getah tumbuhan yang dicampur dengan air liur lebah madu. Kandungan di dalam propolis antara lain Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE) yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan.

Penelitian yang dilakukan terhadap 63 pasien DBD di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta menunjukkan, pemberian ekstrak propolis membantu meningkatkan jumlah trombosit dan mempercepat penyembuhan.

“Obat ini dijadikan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan pasien DBD. Adapun variabel yang diselidiki yaitu penanda anti-inflamasi, tingkat trombosit, leukosit, hematokrit, dan suhu tubuh,” kata Kasub SMF/Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam, Letnan Kolonel Ckm Dr. Soroy Lardo, Sp.PD, dalam acara paparan hasil penelitian uji klinis ekstrak propolis di Jakarta (5/3/15).

Selain Soroy, penelitian ini juga dilakukan oleh tim peneliti RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta yang terdiri dari Kolonel Ckm Dr. Djoko Wibisono, SpPD, Letnal Kolonerl Cfm Dr. Bagus Sulistyo Budhi, Sp.KJ, dan dokter asisten dr. Yongkie Iswandi Purnama.

Dalam penelitian, para responden dibagi menjadi dua kelompok, yang pertama mendapatkan ekstrak propolis propoelix 200 berbentuk kapsul dan kelompok kedua diberi plasebo (obat yang tidak memiliki zat aktif dan tidak memiliki efek apapun).

Hasilnya, 31 pasien yang meminum ekstrak propolis menunjukkan pemulihan lebih cepat pada hari ke-3 dan secara statistik lebih signifikan pada hari ke-6 dan ke-7, khususnya pada jumlah trombosit. Mereka yang meminum ekstrak propolis memiliki masa rawat inap lebih singkat di rumah sakit daripada yang berada di kelompok plasebo,” jelas Soroy.

Secara umum, pasien yang menerima ekstrak propolis memang menjalani rawat inap sekitar satu sampai dua hari lebih singkat. "Berbeda sehari dengan yang kelompok plasebo, tapi secara statistik itu bermakna," katanya.

Ditegaskan oleh Djoko Wibisono, ekstrak propolis digunakan sebagai terapi tambahan, bukan obat. "Yang utama tetap monitoring, terutama monitoring cairan pasien. Di sini kami akan menggunakan ekstrak propolis sebagai terapi tambahan, tapi tetap dengan persetujuan pasien," katanya.

Hasil penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam jurnal Dove Medical Press, sebuah open access peer-review jurnal dan PubMed Central. (Purwandini Sakti Pratiwi)


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X