Kompas.com - 13/04/2015, 13:47 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Tim ilmuwan menemukan terapi baru HIV yang menggunakan antibodi tubuh untuk menyerang virus. Penelitian ini diharapkan semakin mendekatkan pada ditemukannya vaksin untuk mencegah HIV.

Hasil eksperimen pertama yang dilakukan pada pasien menunjukkan hasil yang positif. Secara drastis level virus dalam darah turun.

Pada tubuh orang yang terinfeksi HIV, sebenarnya terjadi peperangan antara virus dan sistem imun tubuh. Walau tubuh sudah memproduksi antibodi baru yang menargetkan pada virus, namun virus langsung bermutasi sehingga mereka sulit dikalahkan.

Tim peneliti dari Rockefeller University di New York, AS, meyakini bahwa penggunaan antibodi sintesis yang bisa menempel di permukaan protein pada lapisan luar membran virus HIV bisa menjadi cara alternatif untuk melawan penyakit ini.

Para peneliti lalu menginjeksi pasien dengan neutralizing antibodi (antibodi yang mempertahankan sel dari antigen atau virus)  dan hasilnya ternyata ada penurunan jumlah virus.

Sebelumnya juga sudah pernah dilakukan penelitian menggunakan antibodi, tapi hasilnya kurang memuaskan. Sedangkan antibodi yang dipakai tim dari Universitas Rockefeller ini merupakan antibodi generasi baru karena sudah dinetralkan dan berpotensi melawan berbagai virus HIV.

"Satu antibodi akan sama seperti satu jenis obat, tak akan mampu menekan jumlah virus dalam jangka panjang karena akan terjadi resistensi. Yang istimewa dari antibodi ini adalah mereka aktif melwan lebih dari 80 persen jenis virus HIV dan sangat ampuh," kata Dr.Marina Caskey, peneliti.

Dalam penelitiannya, terapi antibodi baru ini efektif melawan 195 dari 237 jenis virus HIV.
Sistem imun pada orang yang terinfeksi HIV sebenarnya secara alami memproduksi antibodi neutralising, tapi baru beberapa tahun setelah mereka terinfeksi. Sayangnya, pada saat itu virus biasanya sudah berevolusi dan bermutasi sehingga antibodi jadi tidak efektif.

Dengan mengisolasi dan mengkloning antibodi ini, para ilmuwan mampu memanfaatkannya sebagai agen terapi untuk melawan infekssi HIV. Sehingga virus tak sempat bermutasi.

Sebagai bagian dari studi ini, dilibatkan orang yang tidak terinfeksi dan terinfeksi HIV. Mereka diberikan suntikan satu dosis antibodi dan dimonitor selama 56 hari.

Pada dosis tertinggi, sekitar 30 mg perkilo berat badan, seluruh responden mengalami penurunan virus HIV sampai 300 kali. Mayoritas juga mengalami penurunan virus pada satu minggu setelah terapi. Ini adalah studi antibodi pertama yang dilakukan pada manusia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Dailymail

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.