Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 31/05/2015, 15:00 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Saat ini, tato tubuh menjadi hal yang digemari. Tato yang sebelumnya identik dengan pria, sudah tak lagi seperti itu. Karena, tak sedikit perempuan yang juga senang tubuhnya ditato. Tidak hanya tato kecil, melainkan tato berukuran besar (dan juga banyak) untuk menghiasi tubuhnya. Sebelum menambah tato (atau mulai menato), ada baiknya memerhatikan risiko kulit yang mungkin terjadi. 

Hasil studi di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam jurnal Contact Dermatitis menunjukkan, bahwa reaksi kulit yang menganggu setelah membuat tato, relatif umum terjadi. Hal ini diperoleh setelah periset menanyakan adanya efek samping yang tidak diinginkan setelah ditato terhadap 300 orang. 

Kepada responden yang melalui Central Park, New York, ditanyakan pengalaman atas simtom berbeda dari yang mereka pertimbangkan sebagai bagian normal dari tato. Contohnya mencakup kemerahan, infeksi kulit, alergi, sensitif terhadap sinar matahari, dan keropeng yang berkepanjangan. Disebutkan para peneliti, sekitar 10 persen dari responden melaporkan simtom seperti gatal, nyeri, dan jaringan parut yang beberapa bertahan lebih dari 4 bulan. 

"Saya bukan menentang tato. Kebanyakan orang bisa saja tidak bermasalah, tetapi penting untuk menyadari masalah ini juga bisa terjadi," ujar Prof. Marie Leger, periset dari New York University. Ada banyak hal berbeda yang bisa salah, mulai dari kandungan tinta hingga tingkat higienitas dari tempat untuk melakukan tato tersebut. 

Itu sebabnya, National Health Service (NHS) merekomendasikan mereka yang akan melakukan tato tubuh, agar mengecek lisensi pada studio tato dan tempatnya harus bersih serta terawat dengan baik. Selain itu, tempat untuk melakukan tato sebaiknya juga memastikan penggunaan sarung tangan dan alat-alat yang steril. Mengingat jarum yang terkontaminasi, sebagai contoh, bisa membawa risiko penyebaran infeksi seperti hepatitis B.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber BBC.com
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+