Kompas.com - 30/07/2015, 10:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Melewatkan sarapan memang tak baik. Apalagi, bagi para penderita diabetes, bisa berdampak buruk bagi kesehatannya. Menurut penelitian, tidak makan pagi justru bisa meningkatkan lonjakan gula darah setelah makan siang dan makan malam.

Peneliti mengamati 22 pasien diabetes tipe 2 yang terdiri dari 12 pria dan 10 wanita berusia rata-rata 57 tahun dan memiliki kelebihan berat badan. Mereka diminta rutin cek gula darah pada hari di mana mereka sarapan dan tidak sarapan. Hasilnya, jika pasien melewatkan sarapan, gula darah menjadi 40 persen lebih tinggi setelah makan siang dan 25 persen lebih tinggi setelah makan malam dibanding jika sarapan.

Penulis studi Daniela Jakubowicz dari Tel Aviv University mengaku terkejut dengan metabolisme glukosa pasien diabetes hanya karena tidak sarapan. "Ini berarti mengurangi jumlah pati dan gula saat makan siang dan makan malam tidak akan memengaruhi kadar glukosa yang tinggi jika pasien juga melewatkan sarapan," kata Daniela.

Menurut peneliti, melewatkan sarapan membuat pengelolaan glukosa oleh tubuh kurang efisien dan mengurangi kemampuan untuk mengubah gula menjadi energi. Daniela menambahkan, melewatkan sarapan mungkin telah membuat pankreas sulit menghasilkan jumlah insulin yang tepat untuk mengontrol gula darah. Tidak makan pagi, dapat menyebabkan sel-sel beta pankreas menunda pelepasan insulin dan memungkinkan kadar gula darah tetap tinggi dalam waktu yang cukup lama setelah makan siang dan makan malam.

Perlu diteliti lebih lanjut apakah lonjakan gula darah juga akan terjadi pada orang-orang yang tidak diabetes. Sementara itu, menurut peneliti penyakit metabolik dari Institut de Neurosciences des Systèmes di Marseille, Prancis, Tanya Zilberter, kadar gula darah keesokan harinya mungkin dipengaruhi oleh makan malam.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber foxnews
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Benarkah Ibu Menyusui Tak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Health
Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Sindrom Zollinger-Ellison (ZES)

Penyakit
Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Benarkah Susu Sapi Ampuh Redakan Gejala Heartburn?

Health
Limfangitis

Limfangitis

Penyakit
Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Health
Penyakit Jantung Rematik

Penyakit Jantung Rematik

Penyakit
3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

3 Cara Mengatasi Bayi Sungsang secara Alami dan Medis

Health
Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Pahami 5 Gejala Awal Kanker Usus

Health
6 Gejala Asam Urat di Lutut

6 Gejala Asam Urat di Lutut

Health
Karsinoma Sel Skuamosa

Karsinoma Sel Skuamosa

Penyakit
10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

10 Penyebab Sakit Perut Bagian Atas

Health
Rahim Turun

Rahim Turun

Penyakit
6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

6 Jenis Gangguan Pola Tidur dan Cara Mengatasinya

Health
Herniasi Otak

Herniasi Otak

Penyakit
Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Sering Menjadi Faktor Risiko Utama, Apa Kaitan Bipolar dan Genetik?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.