Kompas.com - 30/07/2015, 15:48 WIB
Ilustrasi kehamilan SHUTTERSTOCKIlustrasi kehamilan
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Penularan hepatitis B dari ibu ke janin yang dikandungnya masih banyak terjadi di Indonesia. Padahal, imunisasi bagi bayi baru lahir sudah dilakukan. Jika tidak dicegah dan diobati, virus hepatitis pada bayi berpotensi menjadi kronis dan dalam 10-20 tahun bisa berujung pada pengerasan hati, bahkan kanker.

Sekretaris Bidang Ilmiah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang juga konsultan gastrohepatologi anak, Muzal Kadim, Rabu (29/7) di Jakarta, mengatakan, di lapangan ditemukan banyak bayi atau anak terinfeksi hepatitis. Padahal, pemerintah memprogramkan imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir sejak 1997.

"Dalam seminggu, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, setidaknya ada satu pasien hepatitis anak. Kami heran, kok masih banyak anak kena hepatitis. Infeksi hepatitis secara vertikal biasanya lebih berat dibandingkan yang horizontal (transfusi darah dan penggunaan jarum suntik tak steril)," ujar Muzal.

Senior Research Fellow and Specialist Physician Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof David Handojo Muljono, mengatakan, hasil Riset Kesehatan Dasar 2007 menunjukkan, ada 7,32 persen populasi di kelompok usia 1-4 tahun yang memiliki antigen hepatitis B (HBsAg) positif. Itu berarti ada anak balita terinfeksi hepatitis dari ibunya.

Dalam kajian serologi dan biomolekuler pada 943 ibu hamil di Makassar, Sulawesi Selatan, periode Juni-Agustus 2014, ditemukan 6,8 persen ibu hamil positif hepatitis B. Virus hepatitis B juga ditemukan pada tali pusat (10,93 persen) dan plasenta (21,67 persen).

Penelitian David pada populasi berusia 18-41 tahun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Virology 2015 menemukan, masih ada HBsAg positif pada remaja dan dewasa muda.

Terlambat diimunisasi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penularan hepatitis dari ibu ke bayi seharusnya tak terjadi jika imunisasi hepatitis diberikan pada bayi kurang dari 12 jam setelah lahir. Apalagi, program nasional vaksinasi hepatitis sudah berjalan sejak 1997.

Muzal menduga, banyak anak balita positif terinfeksi hepatitis B karena terlambat diimunisasi. Dalam waktu kurang dari 12 jam setelah lahir, bayi harus sudah diimunisasi hepatitis B dan diberi vitamin K. Itu bisa memberi perlindungan dari virus hepatitis hingga 80 persen. Imunisasi setelah lebih dari sehari tak efektif mencegah infeksi hepatitis.

Guru Besar Emeritus Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ali Sulaiman, menambahkan, vaksinasi mereka yang tak segera diimunisasi saat dilahirkan harus menjadi perhatian pemerintah. Bayi dari ibu positif hepatitis yang waktu lahir tak diimunisasi berpotensi menularkan virus hepatitis kepada orang lain.

Menurut Muzal, virus dalam tubuh bayi atau anak akan memasuki fase imunotoleran. Jadi, virus tetap hidup dalam tubuh dan merusak sel hati tetapi tak dikenali tubuh sebagai benda asing. Akibatnya, perusakan sel hati terus terjadi.

Begitu masuk fase imunoaktif, tubuh akan menghancurkan sel- sel hati karena ada virus hepatitis. Tubuh sudah melihat virus hepatitis sebagai benda asing. Pengerasan hati lalu terjadi.

"Virus hepatitis memakai DNA kita sendiri untuk menghancurkan hati. Jadi, pemeriksaan kesehatan hati secara rutin penting dilakukan," ujar Muzal.

Penularan hepatitis dari ibu ke bayi seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi. Sayangnya, menurut David, Indonesia tak punya data dan surveilans hepatitis yang baik sehingga intervensi kebijakan belum berjalan baik.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama memaparkan, prevalensi hepatitis berdasarkan anamnesis tahun 2013 bagi semua kelompok usia adalah 1,2 persen, meningkat dibandingkan tahun 2007 yang 0,6 persen. Jenis hepatitis terbanyak menginfeksi penduduk Indonesia adalah hepatitis B.

Direktur Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia Ria Syafitri menambahkan, pada 2014 dari 2,8 juta kantong darah yang diperoleh PMI dari donor ada 1,45 persen reaktif virus hepatitis B dan 0,37 persen reaktif virus hepatitis C. Artinya, darah donor itu diduga kuat ada virus hepatitis. "Darah itu dihancurkan, tak diberikan kepada pasien," ujarnya. (ADH)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Trikotilomania

Trikotilomania

Penyakit
Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Coccidioidomycosis

Coccidioidomycosis

Penyakit
7 Nutrisi yang Baik untuk Kesehatan Mata, Bukan Hanya Vitamin A

7 Nutrisi yang Baik untuk Kesehatan Mata, Bukan Hanya Vitamin A

Health
Prolaktinoma

Prolaktinoma

Penyakit
Berapa Lama Normalnya Wanita Mengalami Menstruasi?

Berapa Lama Normalnya Wanita Mengalami Menstruasi?

Health
Penis Bengkok

Penis Bengkok

Penyakit
Tentang Covid-19 varian Omicorn yang Harus Kamu Tahu

Tentang Covid-19 varian Omicorn yang Harus Kamu Tahu

Health
Labirinitis

Labirinitis

Penyakit
15 Gejala Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

15 Gejala Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

Health
Bipolar

Bipolar

Penyakit
11 Penyebab Bulu Mata Memutih, Bukan Hanya Penuaan

11 Penyebab Bulu Mata Memutih, Bukan Hanya Penuaan

Health
Penyakit Graves

Penyakit Graves

Penyakit
12 Penyebab Pembekuan Darah di Otak

12 Penyebab Pembekuan Darah di Otak

Health
Trypophobia

Trypophobia

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.