Jenis Pekerjaan Tentukan Jumlah Aktivitas Fisik

Kompas.com - 13/06/2016, 14:29 WIB
Ilustrasi THINKSTOCK.COMIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Ketika harus berolah raga, masalah yang dihadapi sebagian besar orang bukan harus tidaknya kita melakukannya, melainkan seberapa banyak aktivitas yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kesehatan.

Dalam studi terakhir yang diterbitkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS) di Centers for Disease Control and Prevention (CDC), periset meneliti bagaimana pekerjaan mempengaruhi orang yang olah raga di waktu luang. Studi itu melibatkan data dari survei nasional masyarakat Amerika Serikat antara 2008 dan 2014.

Panduan federal AS saat ini merekomendasikan masyarakat paling tidak 150 menit melakukan aktivitas fisik sedang atau 75 menit aktivitas berkeringat setiap minggu dan melakukan latihan beban untuk menguatkan otot beberapa hari seminggu.

Rekomendasi ini ditujukan saat kita bekerja dan setelah kerja. Tetapi, ternyata sebagian dari pekerja tidak melakukan banyak aktivitas fisik di kantor. Ini membuat Debra Blackwell dan Tainya Clarke dari NCHS menganalisa data apakah pekerjaan berhubungan dengan jumlah olahraga yang mereka lakukan di waktu luang.

Mereka menemukan secara keseluruhan 43 persen karyawan dewasa tidak melakukan jumlah aktivitas fisik yang direkomendasikan. Sementara orang yang melakukan pekerjaan produksi yang melibatkan kekuatan fisik cenderung berolahraga lebih sedikit di waktu luang dibandingkan mereka yang ada di posisi manajerial atau lebih sering duduk di kantor.

Sekitar 51 persen orang di bagian produksi gagal memenuhi rekomendasi olahraga dibandingkan hanya 30 persen orang di bagian manajerial. Mereka yang duduk sepanjang hari di kantor dilaporkan memiliki aktivitas rekreasi fisik yang tinggi.

Pendidikan ternyata merupakan faktor penting yang berhubungan dengan pekerjaan dan aktivitas fisik. Semakin tinggi pendidikan, semakin cenderung ia memenuhi rekomendasi aktivitas fisik. Bahkan mereka yang ada di bagian produksi, mereka yang memiliki pendidikan tinggi cenderung berolahraga lebih banyak di waktu luang.

"Pendidikan adalah modal sosial. Pendidikan mewakili akses dan bagaimana kita menggunakan informasi untuk membuat keputusan mengenai pilihan gaya hidup," kata Blackwell.

Sepertinya pendidikan tinggi membantu kita mempelajari lebih banyak soal manfaat olahraga dan juga membuat kita memiliki lebih banyak sumber daya untuk aktif secara fisik ketika tidak sedang bekerja.

Penelitian ini tidak menginvestigasi hal-hal seperti apakah mereka merokok atau pun melihat pola makan mereka. Blackwell menduga pendidikan juga mungkin mempengaruhi faktor-faktor tersebut juga.

Studi ini tidak memasukkan informasi berapa banyak olah fisik yang mereka lakukan di tempat kerja. Mungkin juga orang yang bekerja di sektor produksi lebih banyak melakukan aktivitas fisik selama bekerja dan karenanya berolahraga lebih sedikit di luar jam kantor. Sementara karyawan di bidang manajerial lebih sering duduk selama bekerja.

Saat ini banyak penelitian menyimpulkan bahaya duduk terlalu lama, termasuk lebih tinggi terkena risiko kanker, penyakit jantung dan obesitas. Hasil penelitian ini memberi isyarat bahwa orang yang hanya duduk di kantor mengerti bahaya terlalu lama duduk di kantor sehingga menambah aktivitas di luar jam kerja. Apakah aktivitas di akhir pekan itu cukup tampaknya akan menjadi bahan penelitian lain.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Sumber time.com
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X