Didiagnosis Kanker, Cari Alternatif sampai Antre Layanan

Kompas.com - 06/02/2017, 14:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

Kanker menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar di dunia, termasuk Indonesia. Terbatasnya pengetahuan dan kesadaran warga terhadap pentingnya hidup sehat serta deteksi dini penyakit berkelindan dengan ketidakmampuan sistem pelayanan kesehatan mengendalikan penyakit kronis ini.

Ketika seseorang divonis kanker, seakan dunia berakhir saat itu juga. Terdorong rasa takut pada pengobatan medis, sebagian orang memilih terapi alternatif daripada medis. Gayung bersambut dari pelaku pengobatan alternatif yang membanjiri dunia maya dengan informasi keliru dan tak bertanggung jawab seputar kanker.

Endang Widarti (56), penyintas kanker leher rahim (serviks), menuturkan, semula ada flek di vaginanya selama tiga pekan 20 tahun lalu. Hasil pemeriksaan dokter spesialis kebidanan dan kandungan dan Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menunjukkan, ia positif kanker serviks.

Begitu tahu didiagnosis kanker serviks stadium dini, Endang tak langsung berobat ke dokter. Ia tertarik iklan terapi alternatif di sinse di sebuah tabloid berisi pengakuan perempuan sembuh dari kanker serviks. Ia pun mencoba berobat ke sinse itu.

Ibu dua anak itu berobat ke sinse selama tujuh pekan dengan mengonsumsi obat dan teh. Namun, kondisinya kian parah. Saat diperiksa lagi, stadium kanker Endang naik jadi stadium IIA. Dari awalnya hanya keluar flek, jadi keluar gumpalan darah. "Testimoni bohong. Saya telepon enggak bisa. Saya telepon ke tabloidnya katanya enggak tahu," ujarnya, Kamis (2/2), di Jakarta.

Endang akhirnya kembali menempuh pengobatan medis. Ia menjalani operasi pengangkatan rahim, 25 kali radioterapi, dan 5 kali kemoterapi. Semakin hari, kondisinya membaik. Kini, meski 20 tahun jadi penyintas kanker, ia rutin periksa kesehatan.

Menurut Wakil Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) Sonar Soni Panigoro, pasien kanker umumnya mencoba terapi alternatif sebelum berobat ke dokter. "Biasanya pergi ke 'orang pintar'. Setelah gagal, baru berobat ke 'orang bodoh' seperti kami, saat stadium kankernya lanjut," ujar Sonar yang juga ahli bedah kanker.

Padahal, jika terapi dilakukan saat kanker stadium dini, peluang kesembuhan 95 persen. Jika stadium kanker lanjut, apalagi menyebar ke organ lain, peluangnya 20-40 persen. Makin lanjut stadium kanker, terapi kian sulit.

Menurut Sonar, terapi medis jadi pilihan tepat menanggulangi kanker. Operasi, kemoterapi, dan radioterapi ialah metode umum mengobati kanker. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, ada terapi target dan hormonal.

Sejauh ini, belum ada bukti ilmiah pengobatan alternatif bisa mengganti terapi standar medis kanker. Pengobatan alternatif bisa merugikan pasien karena stadium kanker justru naik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X