Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Penyebab Darah Tinggi dan Denyut Nadi Rendah

Kompas.com - 03/12/2020, 20:03 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Atenolol (Tenormin)
Metoprolol (Lopressor, Toprol XL)
Nebivolol (Bystolic)
Propranolol (Inderal)

Baca juga: Profil Surya Sahetapy, Putra Ray Sahetapy yang Berprofesi Dosen di Amerika

Obat-obatan ini bekerja untuk memblokir reseptor beta di jantung. Merangsang reseptor ini meningkatkan detak jantung, sementara memblokirnya dapat menurunkan detak jantung.

Denyut jantung yang lebih rendah bermanfaat bagi orang yang memiliki masalah jantung karena memungkinkan lebih banyak waktu untuk mengisi jantung.

Saat jantung berdetak lebih lambat, itu juga membutuhkan lebih sedikit oksigen. Hal ini mengurangi ketegangan pada jantung dan “mengistirahatkan" organ tersebut.

Baca juga: Ribuan Kurir Antre Sepanjang 2 Kilometer untuk Retur Paket di Ulujami

Dokter terkadang meresepkan beta-blocker untuk orang yang memiliki tekanan darah tinggi, gagal jantung kongestif, atau aritmia jantung saat jantung berdetak tidak teratur.

Untuk alasan ini, seseorang yang sudah memiliki tekanan darah tinggi dapat memiliki detak jantung yang lebih rendah dengan beta-blocker.

Cara mengatasinya:

Dokter juga dapat meresepkan obat lain untuk menurunkan tekanan darah, termasuk:

Baca juga: Terungkap, Ini Alasan Suami Tega Tinggalkan Istri dan Bayinya di Masjid Ciawi

  • Penghambat saluran kalsium
  • Penghambat reseptor angiotensin
  • Penghambat enzim pengubah angiotensin

Obat ini biasanya tidak mempengaruhi detak jantung saat menangani tekanan darah.

2. Refleks Cushing

Refleks Cushing adalah kejadian langka yang menyebabkan denyut nadi rendah dan tekanan darah tinggi.

Refleks adalah hasil dari respons tubuh terhadap peningkatan tekanan intrakranial.

Baca juga: Bantah Uang Kompensasi Dedi Mulyadi Dipotong, Dishub: Itu Keikhlasan Sopir

Tekanan intrakranial sendiri adalah tekanan di dalam kepala dan merupakan pengukuran tekanan darah di otak.

Sebagai gambaran, otak terletak di dalam tengkorak. Jadi, jika membengkak, hanya sejauh itu otak dapat berkembang. Akibatnya, pembengkakan menyebabkan tekanan intrakranial meningkat.

Refleks Cushing adalah salah satu cara tubuh untuk mencoba dan menjaga agar tekanan tidak terlalu tinggi di tengkorak. Ini memberi sinyal reseptor di jantung untuk memperlambat detak jantung untuk menurunkan tekanan intrakranial.

Baca juga: Ini Daftar Motor dan Mobil yang Dilarang Isi BBM Pertalite di SPBU Pertamina per 4 April 2025

Kondisi medis yang parah biasanya mengaktifkan refleks Cushing.

Kondisi tersebut meliputi:

  • Tumor otak
  • Gegar otak
  • Hipoksia
  • Meningitis
  • Stroke
  • Trauma
  • Pendarahan ke otak

Cara mengatasinya:

Refleks Cushing adalah keadaan darurat.

Begitu dokter mengenali kondisi ini, mereka akan mencoba mencari tahu dan mengobati penyebabnya serta mengurangi tekanan intrakranial di otak.

Baca juga: 9 Buah yang Bantu Redakan Asam Urat secara Alami

Jika tekanan menjadi terlalu tinggi, dapat merusak otak secara permanen. Seseorang bisa mati karena tekanan intrakranial yang terlalu tinggi.

Gejala refleks Cushing yang dapat dikenali, meliputi:

Halaman:
Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Daftar 180 Negara yang Kena Tarif Impor Trump, Kamboja Nyaris 50 Persen, Rusia "Menghilang"
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau