Kompas.com - 06/03/2021, 18:08 WIB

KOMPAS.com – Kegemukan atau obesitas adalah penyakit kronis multisebab yang dapat mengurangi kualitas hidup pengidapnya.

Tak hanya itu, obesitas dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena beragam penyakit berat, seperti:

Baca juga: 6 Bahaya Obesitas pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Maka dari itu, obesitas adalah kondisi yang tak layak dianggap remah.

Sayangnya, beberapa orang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya telah mengalami obesitas.

Jika dibiarkan, hal itu tentu bisa jadi berbahaya.

Body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh (IMT) adalah indikator umum yang kerap dipakai untuk mengklasifikasikan berat badan ideal.

Melansir WebMD, melalui metode penghitungan BMI, seseorang bisa memperoleh infomasi dasar tetang berat badan ideal dan tidak ideal.

BMI atau IMT bisa dihitung dengan rumus berikut:

BMI= berat badan dalam satuan kg/(tinggi badan dalam satuan meter)²

Klasifikasi IMT menurut Permenkes RI No. 41 tahun 2014 tentang Peroman Gizi Seimbang, yakni sebagai berikut:

  • Berat badan kurang: <18,5
  • Berat badan normal: 18,5 – 25
  • Gemuk (overweight): >25-27
  • Obesitas: >27

Baca juga: 3 Cara Mengukur Obesitas, Mana yang Terbaik?

Sementara itu, tidak jauh beda, klasifikasi BMI berdasarkan Asia Pasifik (2000) adalah sebagai berikut:

  • Berat badan kurang: < 18,5 (risiko penyakit rendah)
  • Berat badan normal: 18,5 – 22,9 (risiko penyakit rara-rata)
  • Berat badanlebih: >23 (risiko penyakit meningkat) Pre-obese: 23-24,9 (risiko penyakit meningkat)
  • Obesitas derajat 1: 25-29,9 (risiko penyakit sedang)
  • Obesitas derajat 2 : > 30-3 (risiko penyakit berat)

Jadi, misalnya seseorang memiliki berat badan76 kilogram dan tinggi badan 158 sentimeter, besar BMI-nya adalah 76 dibagi (1,58x1,58)= 30,4.

Karena memiliki BMI lebih dari 30, orang tersebut dapat dikatakan sudah mengalami obesitas derajat 2.

Baca juga: 6 Penyebab Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Namun, terkadang, BMI bisa menjadi cara yang culut bagi orang awam untuk mengetahui tingkat kelebihan berat badan atau obesitas mereka.

Selain itu, BMI tidak dapat memperhitungkan otot yang mungkin dimiliki, yang berarti pembacaan salah mungkin terjadi.

Sebagai alternatif, beberapa cara berikut mungkin lebih mudah digunakan dan dipahami dari pembacaan BMI untuk mengetahui status berat badan seseorang:

1. Lingkar pinggang besar

Konselor nutrisi pemilik Entirely Nourished, Michelle Routhenstein, MS, RD, CDE, CDN, berpendapat cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat adalah dari ukuran pinggangnya.

"Lingkar pinggang yang lebih besar dari 35 inci (88,9 cm) pada wanita dan lebih dari 40 inci (101,6 cm) pada pria tidak hanya dapat menentukan status kelebihan berat badan, tetapi juga menentukan angka yang pasti pada kesehatan seseorang," katanya dilansir dari Health Line.

Menurut dia, ukuran lingkar pinggang di atas angka-angka tersebut bisa menunjukkan lemak perut yang berlebihan, jenis lemak berbahaya yang mengelilingi organ vital, yang meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan sindrom metabolik.

Baca juga: Bagaimana Serat Bisa Bantu Turunkan Berat Badan?

Pengukuran lingkar pinggang juga merupakan cara yang mudah dilakukan dipahami.

“Keuntungan dari metode ini adalah kinerjanya yang cepat dan merupakan prediktor yang cukup andal untuk risiko diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung,” kata Mitchell Zandes, MS, RD, CSCS, ahli diet klinis.

Untuk mengukur lingkar pinggang Anda, Anda hanya membutuhkan pita pengukur.

Letakkan pita pengukur di atas tulang pinggul Anda, kemudian lilitkan ke tebuh, sejajar dengan pusar.

Tahan godaan untuk mengempiskan perut saat proses penghitungan. Pembacaan ukuran lingkar perut yang tidak akurat Akan merugikan diri Anda sendiri.

2. Mendengkur

Jika pasangan Anda, sahabat, atau bahkan Anda memperhatikan dengkuran yang berlebihan dan Anda terbangun dengan perasaan gelisah, itu mungkin alasan yang baik untuk segera memeriksa berat badan Anda.

Baca juga: 7 Gejala Sleep Apnea pada Anak yang Perlu Diwaspadai

“Jika Anda sering mendengkur dan jarang tidur nyenyak, Anda mungkin menderita sleep apnea,” kata Routhenstein.

Sleep apnea adalah suatu kondisi yang menyebabkan pernapasan Anda berhenti dan mulai lagi berulang kali saat Anda tidur.

Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya oksigen dan kelelahan ekstrim selama jam-jam bangun.

Kebanyakan orang dengan kondisi ini cenderung mendengkur akibat obstruksi jalan napas.

"Ketika tubuh Anda menyimpan lemak di sekitar leher, itu mungkin mempersempit jalan napas yang menyebabkan pernapasan dangkal atau berhenti bernapas," jelas Routhenstein.

3. Sering alami heartburn

Perubahan berat badan Anda, bahkan sedikit saja, dapat menyebabkan lebih banyak refluks asam lambung (asam lambung naik ke kerongkongan atau esofagus).

Lebih dari 1/3 individu yang kelebihan berat badan dan obesitas mengalami penyakit gastroesophageal reflux (GERD).

Baca juga: 5 Penyebab Heartburn dan Mual Sering Terjadi yang Perlu Diwaspadai

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara obesitas dan perkembangan GERD.

Gejala lain dari GERD termasuk:

  • Bersendawa
  • Mual
  • Rasa pahit di mulut
  • Sakit perut

4. Nyeri sendi

Nyeri sendi bisa menjadi tanda obesitas.

Merangkum Medical News Today, obesitas merupakan faktor risiko osteoartritis, jenis artritis yang paling umum.

Osteoartritis adalah kelainan yang menyebabkan kerusakan sendi, nyeri, penurunan mobilitas sendi, dan penurunan kualitas hidup.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Beda Penyakit Rematik dan Asam Urat

Membawa beban ekstra memberikan lebih banyak tekanan pada semua persendian Anda, dan seiring bertambahnya berat badan, tekanan tersebut meningkat.

Jika Anda mengalami sakit lutut atau pinggul, atau sakit punggung kronis, Anda mungkin mengalami tanda-tanda masalah berat badan.

5. Kelelahan kronis

Kelelahan kronis bisa juga menjadi gejala obesitas.

Berat berlebih memberi tekanan tambahan pada organ Anda, termasuk paru-paru.

Jika tugas sederhana, seperti mengikat sepatu atau membersihkan kamar, menyebabkan kelelahan, sesak napas, atau kesulitan bernapas, Anda mungkin mengalami masalah berat badan.

Demikian pula, individu yang kelebihan berat badan dan obesitas memiliki risiko lebih besar terkena asma.

Orang dengan masalah berat badan mungkin mengalami peradangan kronis karena kelebihan berat badan. Hal ini dapat menyebabkan peradangan pada saluran udara dan mempersulit pernapasan.

Baca juga: 5 Penyebab PPOK pada Orang Bukan Perokok

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.