Penelitian menunjukkan bahwa terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur mungkin terkait dengan peningkatan faktor risiko penyakit Alzheimer.
Studi Spanyol menemukan bahwa orang yang tidur terlalu lama mungkin berisiko lebih tinggi terkena demensia.
Depresi dan tidur dapat berjalan beriringan, sehingga dapat sulit menentukan mana yang muncul lebih dahulu.
Orang dengan jenis depresi tertentu tidur lebih lama. Sementara, tidur lebih lama dapat memperburuk depresi.
Namun, tidak semua orang yang kebanyakan tidur dan merasa tidak enak badan mengalami depresi klinis.
Baca juga: Apakah Tidur dengan Mata Terbuka Itu Berbahaya?
Meskipun sering kali kita merasa perlu beristirahat lebih banyak saat kita kesakitan, penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, terlalu banyak tidur dapat memperburuk gejala.
Misalnya, sakit punggung dapat memburuk karena terlalu sedikit aktivitas atau terlalu banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.
Tidur dengan posisi yang tidak ergonomis atau menggunakan kasur yang sudah tua atau tidak menopang tubuh dengan benar juga dapat memperparah nyeri punggung.
Kebanyakan tidur juga dikaitkan dengan tingkat sakit kepala yang lebih tinggi.
Menggunakan informasi dari National Health and Nutrition Examination Survey (NAHNES), para peneliti menghubungkan tidur pendek dan panjang dengan risiko penyakit jantung koroner dan stroke yang lebih tinggi.
Studi tersebut menemukan bahwa orang yang tidur lebih dari delapan jam per malam memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar terkena penyakit ini angina, nyeri dada yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah).
Lalu, 10 persen lebih mungkin terkena penyakit jantung koroner.
Baca juga: 5 Macam Penyakit Penyebab Kematian Saat Tidur yang Harus Diwaspadai
Sebuah studi terbaru dari para peneliti Universitas Cambridge mengamati data dari sekitar 9.700 orang Eropa selama periode 11 tahun.
Mereka yang tidur lebih dari 8 jam memiliki kemungkinan 46 persen lebih besar terkena stroke selama masa penelitian setelah disesuaikan dengan faktor komorbiditas.
Mereka yang durasi tidurnya meningkat selama penelitian memiliki risiko stroke 4 kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidur secukupnya.