Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Ancaman Kanker Kolorektal pada Gen Z

Kompas.com - 26/03/2025, 14:30 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: dr. Lydia Tan, SpPD FINASIM MARS*

GENERASI Z yang sering disingkat menjadi Gen Z atau Zoomers adalah anak–anak dari generasi X atau Milenial. Mereka lahir dari tahun 1997 sampai 2012.

Sebagai generasi sosial pertama yang tumbuh dengan akses internet dan teknologi digital sejak usia muda, mereka menghabiskan banyak waktu dengan layar dibandingkan generasi sebelumnya.

Hal ini menjadikan Gen Z lebih rentan terhadap kesehatan fisik maupun mentalnya.

Kasus kanker kolorektal atau kanker usus besar pada kelompok usia muda seperti gen Z mengalami peningkatan.

Secara global, menurut American Cancer Society, kanker ini menempati urutan ketiga dari semua jenis kanker yang paling banyak ditemukan dan menyebabkan kematian kedua terbanyak.

Di Indonesia, berdasarkan Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari WHO tahun 2020, angka kanker ini menempati posisi ke 4 dan laki-laki lebih tinggi risikonya daripada perempuan.

Kanker ini dapat disebabkan faktor genetik maupun pola hidup yang kurang sehat. Gaya hidup tidak sehat seperti kurangnya tidur dan kualitas tidur, pola makan tidak bernutrisi atau kurang seimbang dan aktivitas fisik yang kurang memadai.

Semua ini berkontribusi signifikan dalam meningkatkan risiko kanker kolorektal pada usia muda.

Gejala awal kanker kolorektal pada umumnya adalah perubahan pola buang air besar, mual, tidak nafsu makan, sakit perut, buang air besar berdarah, kelelahan hingga penurunan berat badan dan kurang darah pada tahap lanjut.

Secara objektif, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan laboratorium dan radiologi seperti hematologi lengkap, penanda tumor dan pemeriksaan feses serta endoskopi dan atau USG abdomen/CT scan.

Kita dapat melakukan pencegahan atau deteksi dini dengan menerapkan pola hidup dan makan sehat seperti tidur cukup dan berkualitas, perbanyak konsumsi serat dari sayuran dan buah, air putih secukupnya.

Selain itu, lakukan aktivitas fisik teratur seminggu tiga kali minimal 30 menit untuk menjaga berat badan ideal dan penapisan lab serta radiologi terutama bagi yang berusia di atas 40 tahun.

Sadar akan gejala dan tanda kanker kolorektal dini akan menyelamatkan nyawa. Peningkatan deteksi dini dan modalitas pengobatan saat ini telah berhasil menurunkan 51 persen kematian (Loftollahzadeh S, 2022; Shinji S, 2022).

*Dosen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
[FULL] Kapolri soal Pantauan Arus Mudik Lebaran 2025: Fatalitas dan Keamanan Lebih Baik dari Tahun
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau