Minggu, 24 September 2017

Health

Sering "Deg-degan"? Waspada Hipertiroid

shutterstock
KOMPAS.com - Jantung berdebar merupakan tanda cepatnya metabolisme di dalam tubuh. Percepatan ini, salah satunya dipicu oleh gangguan pada kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yang menstimulasi metabolisme tiap sel di dalam tubuh.

Semakin banyak hormon tiroid yang dihasilkan dan didistribusi maka rangsangan tersebut makin besar, akibatnya metabolisme semakin cepat. Hal inilah yang menyebabkan kondisi hipertiroid dan penderitanya kerap mengalami deg-degan.

“Peningkatan metabolisme menjadi salah satu gejala hipertiroid. Hipertiroid sendiri adalah suatu keadaan terjadi kelebihan produksi dan distribusi hormon tiroid. Kasus ini berbeda dengan tiroitoksikosis,” kata ahli endokrin dari FKUI-RSCM, Tri Juli Edi Tarigan, kepada Kompas Health, Senin (30/12/2013).

Meski serupa, tiroitoksitosis merupakan kelebihan hormon tiroid yang belum tentu diproduksi kelenjar tiroid. Hormon ini bisa dihasilkan kelenjar lain yang tumbuh dan menghasilkan tiroid. Keduanya memiliki gejala sama yaitu peningkatan kecepatan metabolisme tubuh.

Hormon tiroid yang mendominasi tubuh manusia, jelas Tri, ada dua jenis yaitu T3 dan T4. Hormon T3 adalah kependekan dari triiodothyronine sedangkan T4 adalah hormon thyroxine. Hormon T4 diubah menjadi T3 sebelum dilepaskan ke dalam darah. Hormon T3 lebih aktif dalam memengaruhi metabolisme di dalam tubuh.

Setiap orang memproduksi hormon tiroid dalam jumlah berbeda. “Karena itulah kategori berlebih dalam hipertiroid berbeda pada setiap orang, bergantung pada metabolisme dan tempat pasien memeriksakan hormon tiroidnya," ungkap Tri.

Meski jumlah hormon tiroid berbeda, gejala hipertiroid pada setiap individu sama. Seperti emosi labil, berat badan yang terus turun, juga diare dan rambut rontok.

Tri mengatakan, sampai saat ini belum diketahui penyebab awal berlebihnya produksi maupun distribusi hormon tiroid. Namun ada beberapa kondisi yang menyebakan perubahan produksi dan distribusi hormon tiroid, yaitu penyakit graves dan Toxic Multinodular Goiter (TMNG). Graves lebih kerap ditemukan pada penderita hipertiroid dengan presentasi 80-90 persen.

Graves adalah penyakit autoimun yang disebabkan hilangnya sensitivitas kelenjar tiroid pada thyroid stimulating hormone (TSH). Akibatnya produksi tiroid tetap tinggi kendari TSH dihasilkan dalam jumlah rendah. Penyakit ini rentan diturunkan secara genetik, dan lebih sering ditemukan pada wanita.

Sementara Toxic Multinodular Goiter (TMNG) adalah kondisi saat kelenjar tiroid sudah semakin tua hingga bergumpal. Gumpalan ini kemungkinan ada yang bersifat otonomi hingga bisa menghasilkan hormon tiroid dengan bebas. Hal ini menyebabkan hormon tiroid dalam tubuh berlebihan.

Walaupun tidak diketahui penyebabnya, namun hipertiroid tetap bisa dicegah. “Memang tidak bersifat spesifik mencegah hipertiroid, namun lebih kepada upaya peningkatan kesehatan secara umum. Misal tidak berlebihan mengkonsumsi iodin dan mengurangi konsumsi kopi, bagi yang kerap berdebar-debar. Pencegahan terutama dilakukan pada orang yang memiliki keturunan hipertiroid,” kata Tri.

Hipertiroid tidak menyasar golongan tertentu. Penyakit ini bisa mengenai siapa saja. Namun wanita memiliki kemungkinan lebih besar yaitu 5:1, dikarenakan kondisi hormonalnya.

Bisa diobati
Hipertiroid jelas bisa diobati. Tri mengatakan, penyakit ini bisa diatasi dengan tindakan operasi, konsumsi obat, atau penggunaan radio iodine.

“Untuk konsumsi obat diperlukan waktu sekitar dua tahun. Tentu saja tiap obat memiliki sifatnya sendiri yang diberikan bergantung pada kebutuhan pasien,” kata Tri.

Berbagai obat yang diberikan antara lain bersifat menekan produksi, menekan distribusi hormone dari kelenjar, atau menekan konversi T4 menjadi T3.

Selain pengobatan, Tri menyarankan penderita untuk menghindari pemicu kelebihan produksi atau distribusi hormone tiroid. Penderita hipertiroid disarankan tidak terlalu banyak mengonsumsi garam yang kaya iodin. Penderita juga disarankan melaksanakan gaya hidup sehat.

“Gaya hidup sehat akan memperbaiki ketahanan tubuh sehingga tidak memperparah dampak kelebihan hormon tiroid. Selain mengurangi asupan iodin, penderita hipertiroid harus makan banyak buah dan sayur serta menghindari rokok,” sarannya.

 

Penulis: Rosmha Widiyani
Editor : Wardah Fajri