Selasa, 24 Oktober 2017

Health

Operasi Lasik Tanpa Pisau dan Lebih Akurat

DIAN MAHARANI Artis Mischa Candrawinata melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum menjalani operasi lasik untuk matanya di Klinik Mata Nusantara, Jakarta Selatan, Selasa (9/9/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com
- Lasik sudah banyak digunakan untuk menyembuhkan mata rabun jauh atau mata minus hingga silinder. Teknologi untuk lasik pun terus berkembang di Indonesia.

Sebelumnya, muncul iLasik yang merupakan teknologi operasi lasik tanpa menggunakan pisau bedah untuk membuka lapisan permukaan kornea mata (flap). High-Definition iLasik ini menggunakan iFS Advanced Femtosecond Laser sehingga 100 persen flap dibuat tanpa pisau bedah yang menyentuh mata.

Tak berhenti sampai di situ, perkembangan terbaru kini pada alat perekam profil mata yaitu iDesign. Teknologi baru yang ada di Klinik Mata Nusantara ini menggunakan sensor high-definition dan mampu menangkap 1.200 data poin. Data mata yang ditangkap lebih akurat dari alat sebelumnya, yaitu wave scan.

"Akurasinya lima kali lebih tepat," ujar Dokter Spesialis Mata, Annette Mariza di Klinik Mata Nusantara, Jakarta Selatan, Selasa (9/9/2014).

Ibarat kamera, iDesign memiliki megapixel lebih tinggi sehingga mampu menangkap bagian mata lebih detil. Keberhasilan operasi lasik sangat bergantung pada proses perekaman profil mata ini. "Data dari sini (iDesign) kita masukkan dalam mesin lasik," kata Annette.

DIAN MAHARANI iDesign, teknologi terbaru untuk operasi lasik yang memiliki tingkat akurasi lebih tinggi untuk membuat profil mata. Lasik merupakan tindakan operasi untuk menyembuhkan mata minus atau rabun jauh maupun silinder.

Dengan tingkat akurasi yang tinggi, iDesign tentunya meminimalisir risiko berlebihan atau kurang tajam penglihatan (under atau over correction) setelah tindakan operasi.

Annette menjelaskan, pengerjaan lasik yaitu seperti mengamplas lapisan dalam kornea. Operasi lasik pun tidak menimbulkan rasa sakit dan membutuhkan waktu yang sebentar. Selama sekitar 20 menit, mata pasien akan terus dibuka dengan pembuka mata. Saat itu pasien hanya diminta fokus menatap satu titik pada mesin laser. Ketika mata kering, dokter akan membantu memberikan tetes mata.

Namun, lasik hanya disarankan untuk usia di atas 18 tahun. Sebab, setelah melewati usia tersebut, perkembangan mata sudah terhenti. "Minus pun dianggap sudah selesai pada usia di atas 18 tahun, enggak nambah lagi. Meski banyak umur 25 atau 30 ke atas minusnya masih bertambah," terang Annette.

Setelah operasi, dalam sekitar 6 jam pertama penglihatan mata sedikit berkabut dan silau. Namun setelah itu akan secara perlahan membaik dan penglihatan kembali normal.

Lasik dapat menghilangkan secara permanen masalah mata minus maupun silinder menjadi kembali normal. Dokter spesialis mata Viktor Rasoebala menambahkan, 95 persen pasien yang menjalani operasi lasik ketajaman penglihatannya kembali normal. Setelah lasik, mereka pun tak perlu lagi menggunakan kacamata minus atau silinder.

Penulis: Dian Maharani
Editor : Lusia Kus Anna