Sabtu, 25 Maret 2017

Health

Operasi Caesar Bukan Proses Kelahiran Mudah

Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Lewat media sosial, segala hal bisa kita baca. Termasuk unggahan soal ibu yang kesal dianggap "bukan ibu yang sempurna" karena melahirkan lewat operasi.

"Oh, operasi Caesar? Jadi kamu sebenarnya tidak melahirkan. Pasti enak mengambil jalan mudah seperti itu," tulis Raye Lee di media sosial yang disertai beberapa foto bekas luka operasinya.

"Ah, ya. Operasi darurat saya tentu saja soal kenyamanan. Nyaman untuk bersalin selama 38 jam sebelum bayi jadi stres dan setiap kontraksi menghentikan denyut jantungnya," tulisnya pada postingan yang dibagi 24.000 kali itu.

Ia lantas menjelaskan syok yang dialami ketika tahu dirinya dipersiapkan untuk operasi besar demi menyelamatkan si jabang bayi. Dijelaskan secara detil pula proses melahirkan yang dijalaninya.

"Mendapati seorang bayi mengkerut yang ditarik dari irisan yang hanya sekitar 13 cm. Kulit diiris membelah semua lapisan lemak, otot dan organ yang ditaruh di meja sebelah tubuh kita agar mereka dapat terus memotong sampai dokter mencapai si bayi. Ini pengalaman yang benar-benar berbeda dari yang dibayangkan," katanya.

Berlawanan dengan pendapat orang lain yang percaya operasi Caesar adalah "cara melahirkan yang mudah", Raye Lee menjelaskan bagaimana operasi adalah hal paling menyakitkan yang pernah dialami seumur hidupnya dan proses pemulihan sama brutalnya.

"Anda menggunakan otot perut untuk melakukan banyak aktivitas, bahkan untuk duduk. Bayangkan kita tak dapat menggunakannya karena dipotong dokter dan pemulihannya lebih dari enam minggu karena tubuh kita harus memulihkan secara alami," tulisnya.

Itu sebabnya dokter melarang ibu yang melahirkan lewat operasi melakukan latihan perut paling tidak tiga bulan. Kendati daerah di sekitar bekas operasi mungkin tetap mati rasa selama enam bulan atau lebih.

Raye Lee benar. Melahirkan lewat operasi yang sering dipandang mudah, sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah. "Untuk ibu yang tak punya risiko penyakit, operasi sebenarnya kurang aman bagi ibu dan bayi dibandingkan kelahiran lewat vagina," kata peneliti kelahiran bayi Eugene Declercq, PhD.

Kendati memiliki bekas luka operasi, Raye Lee berpandangan positif terhadap cerita kelahirannya dan menganggap dirinya anggota "badass tribe of mamas".

Ia sama sekali tidak bermaksud menjadikan postingannya menyebar ke mana-mana. Raye Lee menulis di media sosial bahwa ia begitu senang masyarakat menyebarkan kesadaran bahwa tidak semua ibu dapat melahirkan normal. "Saya bukan orang lemah dan saya seorang pejuang," tegasnya.

Penulis: Kontributor Health, Dhorothea
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: SHAPE,