Kompas.com - 06/06/2014, 12:47 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com -
Saat ini, lebih dari 3 juta anak dari 24 juta anak di Indonesia, belum diimunisasi lengkap. Padahal, imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan spesifik berbagai penyakit menular pada bayi dan balita.

Rendahnya cakupan imunisasi ternyata juga ditemui di negara maju seperti Amerika Serikat. Menurut badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), pada periode Januari-Mei tahun ini ditemukan 288 kasus campak. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding total kasus sejak tahun 2000 karena campak hampir tidak ditemukan lagi di negara tersebut.

Berikut adalah beberapa alasan para orangtua yang menolak memberikan imunisasi secara lengkap pada anak mereka.

1. Penyakitnya jarang
Alasan ini sebenarnya sungguh aneh karena semakin jarangnya penyakit tersebut ditemukan menunjukkan program imunisasi berjalan efektif. Ketika jumlah anak yang diimunisasi semakin banyak, sebenarnya anak yang belum divaksin juga terlindungi. Dunia kedokteran menyebutnya dengan "imunitas kawanan". Sayangnya, imunitas semacam ini bisa hilang ketika banyak orang memilih tidak divaksin.

2. Penyakitnya tidak parah
Memang penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi terkadang tak terlalu serius, tetapi sebenarnya penyakitnya bisa menjadi berat. Misalnya saja campak yang bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti gangguan otak. Demikian juga dengan pneumonia atau radang paru. Risiko keparahan penyakit juga akan lebih besar pada anak yang belum divaksinasi.

3. Menyebabkan autisme
Seandainya saja para ilmuwan bisa menjelaskan dengan gamblang apa penyebab autisme. Masalahnya sampai saat ini belum ada riset yang bisa menyimpulkan apa pemicu gangguan ini, bahkan tidak ada data yang solid yang bisa menunjukkan imunisasi memicu autisme.

4. Ada efek sampingnya
Ya, memang ada efek sampingnya, tetapi sebagian besar ringan dan bisa hilang dengan cepat. Namun, setiap prosedur medis, setiap pengobatan, dan semua hal yang kita lakukan juga memiliki efek samping. Karena itu sebagai orangtua kita perlu berhati-hati dan mengikuti saran dokter agar efek samping yang tidak diinginkan bisa dihindari.

5. Zat pengawetnya berbahaya
Cukup banyak informasi tidak benar yang beredar di masyarakat. Ada yang menyebut zat pengawet dalam vaksin berbahaya, sebut saja thimerosal atau alumunium. Namun sebenarnya zat-zat tersebut juga dipakai dalam makanan. Sebelum begitu saja percaya pada mitos yang tidak jelas, tanyakan kepada dokter agar Anda lebih yakin.

6. Ada konspirasi antara pemerintah dan perusahaan farmasi
Teori konspirasi kerap dipakai dalam setiap hal yang tidak kita percayai. Dalam hal dengan program imunisasi, secara rasional sulit mempercayai konspirasi semacam itu. Tentu konspirasi ini perlu melibatkan ilmuwan, perawat, dokter, dan masih banyak orang lagi untuk menciptakan sebuah vaksin. Pemerintah justru mengalami kerugian akibat menanggung biaya kesehatan tinggi karena berbagai penyakit menular yang sebenarnya bisa dicegah dengan sekali suntik.

7. Pendapat teman dan keluarga lebih dipercaya
Masih banyak orang yang lebih percaya pada pendapat teman, keluarga, atau apa kata orang lain di sebuah forum internet, ketimbang pada dokter. Jelas ini merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi tenaga kesehatan untuk mendapatkan kepercayaan dari pasiennya. Dokter tampaknya perlu memberikan edukasi dengan jelas kepada pasien-pasiennya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Health
Karsinoma Nasofaring

Karsinoma Nasofaring

Penyakit
Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Health
Pseudobulbar Affect (PBA)

Pseudobulbar Affect (PBA)

Health
10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

Health
Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Health
10 Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal dan Batuk

10 Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal dan Batuk

Health
Apa Penyebab Jerawat di Vagina?

Apa Penyebab Jerawat di Vagina?

Health
Vaginosis Bakterialis

Vaginosis Bakterialis

Penyakit
5 Cara Terapi Uap untuk Mengatasi Hidung Tersumbat

5 Cara Terapi Uap untuk Mengatasi Hidung Tersumbat

Health
Polisitemia Vera

Polisitemia Vera

Penyakit
Merasa Sakit di Bawah Payudara Kiri? Kenali Penyebabnya

Merasa Sakit di Bawah Payudara Kiri? Kenali Penyebabnya

Health
Oligomenore

Oligomenore

Penyakit
Mengapa Gigitan Nyamuk Terasa Gatal di Kulit?

Mengapa Gigitan Nyamuk Terasa Gatal di Kulit?

Health
Tromboflebitis

Tromboflebitis

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.