Kompas.com - 20/10/2014, 12:09 WIB
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com -
Para ahli selalu mengatakan penurunan berat badan perlahan dan stabil adalah yang terbaik. Namun saat ini ada penelitian yang mengatakan penurunan berat badan kilat ternyata  efektif dan berat badan tak naik lagi sesudahnya.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal medis The Lancet Diabetes and Endocrinology itu memang berlawanan dengan panduan medis internasional yang merekomendasikan penurunan berat badan perlahan agar tidak mudah naik lagi. Bahkan para ahli gizi memperingatkan bahaya diet penurunan berat mendadak yang disebut crash diet itu karena ada kemungkinan pelakunya kekurangan banyak nutrisi esensial untuk kesehatan.

Selama studi tersebut 200 orang dewasa penderita obesitas mengikuti program penurunan berat badan kilat selama 12 minggu atau program penurunan bertahap selama 36 minggu. Pengikut program kilat hanya mengonsumsi pengganti makanan berkalori antara 450 sampai 800 setiap hari. Sementara pelaku diet bertahap mengurangi asupan kalori sampai 500 kalori sehari dari yang direkomendasikan sebanyak 2.500 kalori untuk pria dan 2.000 kalori untuk wanita.

Peserta penelitian yang mengalami penurunan berat badan lebih dari 12,5 persen bobot tubuhnya kemudian mengikuti diet pemeliharaan berat badan selama tiga tahun. Empat dari peserta crash diet mencapai target berat badan mereka dibandingkan hanya separuh yang menjalani diet bertahap.

Selain itu pelaku crash diet juga cenderung tak mengalami kenaikan berat badan. Faktanya, kedua kelompok mengalami kenaikan sekitar 71 persen berat badan yang sudah diturunkan dalam tiga tahun.

Ahli gizi dan peneliti Katrina Purcell mengatakan,"Panduan merekomendasikan penurunan berat badan bertahap untuk mengatasi obesitas, merefleksikan secara luas kepercayaan yang sudah ada bahwa penurunan berat kilat akan mengalami kenaikan berat badan kembali. Penelitian kami menemukan  mencapai penurunan berat badan 12,5 persen dari berat badan ternyata lebih efektif dan pelaku diet yang putus di tengah jalan lebih rendah ketika dilakukan dengan cepat."

Studi itu dipimpin oleh Prof. Joseph Proietto dari University of Melbourne, Australia. Mereka percaya pelaku crash diet lebih sukses menurunkan berat badan karena penurunan berat badan cepat memberi insentif untuk terus berdiet. Menyantap pengganti makanan juga lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan mengurangi jumlah kalori.

Namun mereka mengingatkan pelaku crash diet akan bahaya kekurangan nutrisi esensial yang dibutuhkan setiap hari. Pelaku diet ini perlu mengonsumsi suplemen yang sudah disetujui secara medis.

Para ahli lain mengatakan kita perlu waspada dengan penemuan ini. Jenis fad diet seperti diet yang hanya minum jus atau sup kubis dapat membahayakan kesehatan.

Prof. Naveed Sattar dari University of Glasgow mengaku prihatin dengan penelitian itu. Ia mengatakan bahkan pelaku diet bertahap juga menurunkan berat terlalu cepat dalam penelitian ini. "Kita harus ingat bahwa kenaikan berat badan penderita obesitas terjadi selama bertahun-tahun dan menurunkannya tentu perlu waktu agar otak dan sistem saraf yang mengatur nafsu makan punya cukup waktu untuk diset kembali," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.