Kompas.com - 14/03/2015, 12:53 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Lemak termasuk dalam makronutrisi yang diperlukan tubuh setiap hari, selain karbohidrat dan protein. Rata-rata tubuh memerlukan 30 persen lemak dari asupan kalori harian. Meski begitu, sebagian besar orang Indonesia mengonsumsi lemak secara berlebihan.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, konsumsi makanan berlemak penduduk Indonesia berusia lebih dari 10 tahun adalah 40,7 persen. Konsumsi lemak berlebihan tersebut lebih banyak ditemukan pada perempuan.

Kegemaran masyarakat mengonsumsi makanan yang digoreng dan bersantan masih cukup tinggi. Padahal, makanan tersebut memiliki kadar lemak yang lebih tinggi, termasuk juga kandungan lemak jenuhnya.

Asupan lemak yang berlebihan bisa memicu timbulnya penyakit tidak menular seperti kegemukan, kanker, penyakit jantung, atau diabetes.

"Penyakit tidak menular itu akibat makanan yang enak-enak. Bukannya tidak boleh, tapi harus dibatasi makannya," kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI Dr Ekowati Rahajeng, dalam acara media edukasi yang diadakan oleh PT.Unilever Indonesia di Jakarta (13/3/15).

Dijelaskan oleh Emilia Achmadi, ahli gizi, walau tak semua lemak jahat, tapi jika dikonsumsi berlebihan lemak tetap akan menggemukkan.

Emilia berpendapat, cara pengolahan makanan orang Indonesia menyebabkan kadar lemak dalam makanan menjadi bertambah. "Sebenarnya pisang itu sehat, tapi kita olah dengan digoreng. Demikian juga dengan ikan atau daging ayam. Hampir sebagian besar makanan kita digoreng," katanya.

Meski demikian, karena makanan tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, Emilia menyarankan perubahan kecil tapi bisa berdampak besar untuk mengurangi kadar lemak dalam makanan.  Antara lain dengan cara memasak yang tidak harus selalu digoreng. Ikan misalnya, bisa dipanggang, dipepes, atau dikukus.

Kita juga tak perlu mengganti makanannya tapi jenisnya. Misalnya, mengganti susu whole milk dengan susu rendah lemak untuk memangkas 70 persen lemaknya. Selain itu, kita juga bisa membuat gulai dengan menukar 50 persen santannya dengan susu. Cara lain, membuat balado terong tidak dengan digoreng tapi dioven.

Mengganti kacang goreng dengan kacang rebus, atau memasak nasi goreng dengan wajan antilengket untuk mengurangi penggunaan minyak, juga akan membantu menurunkan kadar lemak dalam makanan.

"Jangan terlalu ekstrem mengurangi makanan berlemak karena pada satu titik kita akan menyerah dan akhirnya makan semaunya. Tapi aturlah porsi dan frekuensinya dikurangi," kata Emilia.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X