Kompas.com - 30/01/2016, 08:15 WIB

Penyakit kusta terdiri dari dua tipe. Pertama, tipe kusta kering (Pausi basiler/PB) dengan tanda-tanda lesi kulit mati rasa kurang dari lima lokasi, penebalan saraf tepi dan gangguan fungsi pada hanya satu saraf, dan jumlah kuman kusta sedikit.

Kedua, tipe kusta basah (Multi Basiler/MB), dengan tanda lesi kulit mati rasa lebih dari lima lokasi, penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi lebih dari satu macam saraf, dan kuman kusta banyak ditemukan kerokan kulit.

Pengobatan kusta menggunakan obat kombinasi (multi drug therapy/MDT), atau pengobatan dengan lebih dari satu macam obat yang sudah direkomendasikan. Kombinasi tersebut dalam bentuk tablet kemasan dan diberikan sesuai tipe penyakit.

Pada tipe PB, MDT terdiri dari Rifampisin dan Dapson, tersedia untuk dewasa dan anak. Obat harus diminum sebanyak 6 kemasan. Untuk tipe MB, obat terdiri dari Rifampisin, Dapson, dan Klofazimin, yang juga tersedia untuk dosis dewasa dan anak. Obat diminum sebanyak 12 kemasan.

Obat MDT bisa diakses di puskesmas secara gratis. Penderita harus minum dosis pertama di depan petugas puskesmas, selanjutnya obat diminum sesuai petunjuk di kemasan.

Belum tereliminasi

Di Indonesia, terdapat 13 provinsi yang belum mencapai status eliminasi penyakit kusta, yakni dengan angka kasus terdaftar lebih dari satu orang per penduduk.

Wiendra menuturkan, pemerintah menargetkan seluruh provinsi mencapai status eliminasi pada 2019 dan penurunan angka cacat tingkat 2 pada kasus baru menjadi kurang dari 1 orang per sejuta penduduk pada 2020. Cacat tingkat 2 antara lain jari putus, tangan kiting (jari bertumpang tindih), dan mata tidak bisa menutup sempurna.

Wiendra menegaskan, stigmatisasi terhadap penderita ataupun mereka yang sudah sembuh dari kusta harus dihentikan. Kusta tidak mudah menular.

Penularan dari penderita yang belum diobati terjadi melalui pernapasan pada orang yang dekat dan kontak dalam waktu lama dengan penderita. Hal ini biasanya terjadi pada orang yang tinggal serumah dan tetangga dekat.

Tidak semua orang serta-merta tertular begitu kontak dengan penderita. Hanya sekitar 5 persen yang akan tertular. Gambarannya, dari 100 orang yang terpapar virus lepra, 95 orang tetap sehat, 3 orang tertular tetapi sembuh tanpa obat, dan 2 orang lain menjadi sakit dan butuh pengobatan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.