Kompas.com - 27/02/2016, 15:00 WIB
EditorLusia Kus Anna
JAKARTA, KOMPAS — Tingginya kasus kanker di Indonesia membebani ekonomi negara dan masyarakat. Kini pembiayaan terapi kanker dalam Jaminan Kesehatan Nasional terbanyak setelah penanganan jantung dan gagal ginjal. Untuk itu, perlu pencegahan dan penanganan penyakit itu sejak dini.

Keterbatasan fasilitas terapi menyebabkan antrean pasien kanker untuk mendapat layanan. Di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Jumat (26/2), sejumlah pasien kanker mengaku menanti waktu operasi minimal tiga bulan.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan 2014 mencatat, pendanaan kanker Rp 2,05 triliun. Sampai triwulan III-2015, pembiayaan Rp 1,32 triliun.

"Ini biaya terbanyak setelah jantung dan gagal ginjal," kata Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Desentralisasi Kesehatan Sri Henni Setiawati, Rabu (24/2).

Studi ASEAN Cost In Oncology (Action) mengungkapkan, 70 persen pasien kanker meninggal dengan terbebani soal keuangan dalam 12 bulan setelah terdiagnosis. Lebih dari 40 pasien yang hidup menguras harta benda demi membiayai terapi setahun pertama.

Studi itu melibatkan 2.355 pasien baru terdiagnosis kanker dari sepuluh rumah sakit rujukan di delapan kota besar dan dipantau setahun. Itu mencerminkan 24,5 persen dari populasi, yakni 9.612 pasien di sepuluh RS rujukan.

Setahun setelah terdiagnosis, pasien membiayai terapi dari pinjaman keluarga (58,6 persen), tabungan (25,2 persen), menjual harta benda (14,4 persen), dan pinjaman pribadi (12,3 persen).

Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany menambahkan, sekitar 70 persen kematian di dunia, 20 tahun ke depan, terjadi di negara dengan warga berpendapatan rendah dan menengah. Beban ekonomi akibat terapi kanker pada sistem kesehatan, individu, dan keluarga akan naik.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily Sulistyowati, kepedulian warga untuk deteksi dini kanker perlu ditingkatkan. Kini puskesmas mampu membantu deteksi kanker. (BRO/C07)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.