Kompas.com - 03/10/2016, 16:00 WIB
Sekitar 600 penyintas kanker payudara berkumpul pada acara Ryan RinaldySekitar 600 penyintas kanker payudara berkumpul pada acara "Bersatu Melawan Kanker Payudara" di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Sabtu (1/10).
EditorLusia Kus Anna

Sebanyak 701 orang dari sejumlah daerah dipertemukan untuk pertama kali, Sabtu (1/10), di Jakarta. Kebersamaan mereka itu untuk saling memberi semangat. Mereka adalah para penyintas kanker payudara.

Dalam rangka Bulan Kanker Payudara Dunia yang diperingati setiap Oktober, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mempertemukan ratusan penyintas kanker payudara dari sekitar 50 daerah di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Pertemuan itu mengusung tema "Bersatu Melawan Kanker Payudara".

Demi pertemuan itu, mereka rela menempuh perjalanan hingga ratusan kilometer dengan biaya sendiri. Kemampuan fisik yang terbatas karena belum sepenuhnya pulih dari kanker tak menghalangi mereka untuk datang dan berbagi informasi.

Penderita kanker payudara stadium tiga, Dede Suryani (42), warga Karawang, Jawa Barat, misalnya, tiba di acara itu seorang diri, pukul 08.30. Ia duduk di deretan kursi paling belakang. Di sebelahnya ada seorang penyintas kanker payudara asal Surabaya, Jawa Timur, yang telah melewati masa operasi lebih dari lima tahun, atau disebut penyintas. Mereka pun saling bertukar informasi tentang kondisi kesehatan dan terapi yang dijalani.

Dede divonis menderita tumor ganas di bagian kanan payudara pada Desember 2015. Kedatangannya ke pertemuan itu didorong keinginan mendengarkan pengalaman sesama penyintas kanker.

Selama ini, ia kurang mendapat informasi tentang proses yang harus dilaluinya setelah kemoterapi. Minimnya informasi yang diperoleh membuat ia kesulitan aktif bertanya kepada dokter spesialis bedah onkologi yang menanganinya.

"Saya mau bertanya kepada sesama penderita, apa saja yang mereka lalui. Dari pengalaman mereka, saya akan mengonfirmasi informasi itu kepada dokter," ujar Dede yang berobat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari kenalan barunya asal Surabaya itu, ia mendapat informasi terkait program apa saja yang perlu ia jalani setelah kemoterapi. Meski nantinya tak lagi perlu kemoterapi, Dede diingatkan agar rutin mengontrol kesehatannya satu bulan sekali.

Pertemuan itu juga mengingatkan dirinya bahwa ia bukan satu-satunya penderita kanker payudara. "Ternyata saya enggak sendirian. Melihat ratusan penderita lain bersemangat, saya ketularan semangat sampai lupa kalau lagi sakit," ujarnya.

Sementara Rina (44), warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ketakutan saat divonis terkena kanker payudara pada 2008. Karena takut, ia memilih pengobatan alternatif dibandingkan operasi. Ibu rumah tangga ini akhirnya memutuskan menjalani operasi di Palangkaraya pada 2009 saat sakit yang diderita tak tertahankan.

Hingga kini, ia rutin memeriksakan kesehatannya di Rumah Sakit Onkologi Surabaya. Ia juga aktif di komunitas penyintas kanker payudara di rumah sakit itu.

Pengalaman itu ingin ia bagikan kepada sesama penderita kanker payudara agar mengambil langkah cepat dan tepat. Ketakutan yang ia rasakan delapan tahun lalu disebabkan kurangnya pengetahuan terkait bahaya kanker payudara dan cara menanganinya.

Saat mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan itu, Rina memutuskan terbang dari Banjarmasin sehari sebelum pertemuan dan menginap di hotel tempat acara berlangsung agar tak terlambat. "Mudah-mudahan pengalaman dan semangat saya bisa ditularkan kepada penderita lain. Saya berharap pengalaman saya mendorong perempuan lain lebih peduli kesehatannya," tuturnya.

Pendekatan komunitas

Dalam pertemuan itu, penyintas kanker payudara mendapat pembekalan tentang gaya hidup sehat dari dokter spesialis bedah onkologi dari RS Kanker Dharmais, Jakarta, Walta Gautama. Para penyintas diingatkan tentang pentingnya memeriksa payudara sendiri.

Selain itu, motivator James Gwee mendorong para penyintas agar turut menyosialisasikan bahaya kanker payudara. Suasana kian meriah saat penyanyi Rossa hadir di atas panggung. Meski tak semua penderita saling kenal, mereka tak ragu berjoget dan bernyanyi bersama.

Menurut Endang Murniati dari Humas YKPI, antusiasme para penyintas kanker payudara untuk menghadiri pertemuan di Jakarta itu tinggi meski dengan biaya sendiri. "Tadinya mau kami tutup saat ada 600 pendaftar. Banyak permintaan agar pendaftaran tak ditutup karena mereka ingin terlibat," ujarnya.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar berharap para penyintas turut aktif menyosialisasikan pemeriksaan dini kanker payudara kepada masyarakat. Sosialisasi itu dimulai dari orang-orang terdekat. "Harapannya, informasi tentang kanker payudara bisa menyebar ke daerah lewat para penyintas yang hadir pada pertemuan ini," ujarnya.

Walta mengatakan, perkumpulan penyintas perlu dibentuk di sejumlah daerah. Adanya komunitas penyintas kanker memudahkan penderita kanker payudara ataupun masyarakat umum untuk mendapat informasi tentang pencegahan dan penanganan penyakit itu.

Hasil pemeriksaan unit mobil mamografi YKPI yang dilakukan Februari hingga Desember 2015 menunjukkan, dari 3.427 orang diperiksa, ditemukan 428 orang dengan tumor jinak dan 47 orang dengan tumor ganas.

Menurut Sistem Informasi Rumah Sakit Tahun 2010, kanker payudara termasuk jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap dan rawat jalan yakni 12.014 pasien. Dari jumlah total kasus itu, 70 persennya terdeteksi pada stadium lanjut.

Padahal, menurut Linda, jika terdeteksi kanker payudara stadium awal, pasien punya peluang hingga 98 persen lebih besar untuk sembuh. Namun, deteksi dini kanker terkendala karena mamografi atau alat deteksi tumor payudara belum dimiliki semua rumah sakit umum daerah.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Dimyati Achmad mengatakan, jika kanker payudara bisa terdeteksi pada stadium awal, beban Jaminan Kesehatan Nasional jadi ringan. "Makin rendah stadiumnya, kian rendah biaya pengobatannya," ujarnya.

Ketersediaan sarana kesehatan dan pertukaran informasi sesama penyintas kanker payudara jadi langkah penting agar negeri ini bebas dari kasus kanker payudara stadium lanjut. (C04)

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Oktober 2016, di halaman 1 dengan judul "Menularkan Semangat Sesama Penyintas".


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berapa Batas Konsumsi Gula Per Hari untuk Penderita Diabetes?

Berapa Batas Konsumsi Gula Per Hari untuk Penderita Diabetes?

Health
Penurunan Kesadaran

Penurunan Kesadaran

Penyakit
Memahami Penyebab Tekanan Darah Rendah

Memahami Penyebab Tekanan Darah Rendah

Health
Kulit Kepala Perih

Kulit Kepala Perih

Penyakit
Detak Jantung Melambat, Bahayakah?

Detak Jantung Melambat, Bahayakah?

Health
Flu Hong Kong

Flu Hong Kong

Penyakit
Dokter Ingatkah Atlet Juga Bisa Alami Obesitas Meski Rutin Olahraga

Dokter Ingatkah Atlet Juga Bisa Alami Obesitas Meski Rutin Olahraga

Health
Lidah Berdarah

Lidah Berdarah

Penyakit
Mengapa Kematian Akibat Kanker Paru-paru pada Wanita Lebih Tinggi?

Mengapa Kematian Akibat Kanker Paru-paru pada Wanita Lebih Tinggi?

Health
Jari Tangan Bengkok

Jari Tangan Bengkok

Penyakit
Kenali 8 Penyebab Jerawat di Dada

Kenali 8 Penyebab Jerawat di Dada

Health
Pilek

Pilek

Penyakit
8 Infeksi Menular Seksual yang Sering Menyerang

8 Infeksi Menular Seksual yang Sering Menyerang

Health
5 Posisi Seks saat Hamil Tua yang Aman

5 Posisi Seks saat Hamil Tua yang Aman

Health
Pantat Bau

Pantat Bau

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.