Benarkah Konsumsi Daging Kambing Sebabkan Tekanan Darah Tinggi?

Kompas.com - 18/02/2020, 17:36 WIB
Seporsi sate kambing (10 tusuk), semangkuk gulai kambing, sepiring nasi putih, dan beberapa emping melinjo sebagai menu santap siang di Rumah Makan Sate Pak Rebing, Empang, Bogor Selatan, Kota Bogor. KOMPAS/AMBROSIUS HARTOSeporsi sate kambing (10 tusuk), semangkuk gulai kambing, sepiring nasi putih, dan beberapa emping melinjo sebagai menu santap siang di Rumah Makan Sate Pak Rebing, Empang, Bogor Selatan, Kota Bogor.

KOMPAS.com - Banyak orang Indonesia menganggap makan daging kambing bisa menyebabkan darah tinggi atau hipertensi.

Karena keyakinan itulah, tidak jarang dari mereka akhirnya harus merelakan diri untuk tidak menikmati berbagai olahan daging kambing saat iduladha maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, jika dicari tahu lebih dalam, daging kambing tidak sepenuhnya dapat menyebabkan hipertensi.

Kolesterol daging kambing lebih rendah

Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan: Memahami Gejala, Tanda dan Mitos (2019) karya Dr. dr. Umar Zein, DTM&H., Sp.PD., KPTI., FINASIM dan dr. Emir El Newi, Sp.M, bahkan dijelaskan bahwa daging kambing tetap lebih baik daripada daging sapi maupun daging ayam sehingga aman dikonsumsi oleh penderita hipertensi sekalipun.

Baca juga: Benarkah Makan Sate Sebabkan Kanker?

Hal itu dikarenakan kolesterol daging kambing diketahui lebih rendah dibanding daging sapi dan daging ayam.

Kadar kolesterol daging kambing hanya sekitar 57 mg per 100 gram. Sedangkan kadar kolesterol daging sapi sekitar 89 mg per 100 gram dan daging ayam 83 mg per 100 gram.

Kandungan lemak pada daging kambing juga terhitung lebih rendah dibanding daging sapi maupun daging ayam.

Jika ditotal, kandungan lemak pada 100 gram daging kambing hanya 2,3 gram. Sementara, kandungan lemak pada 100 gram daging sapi bisa mencapai 15 gram dan daging ayam kurang lebih 7,5 gram.

Selain kandungan kolesterol dan lemak, kandungan kalori daging kambing juga terhitung lebih rendah dibanding daging sapi maupun daging ayam.

Setiap 100 gram daging kambing mengandung sekitar 109 kalori. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding daging sapi yang mencapai 250 kalori dan daging ayam 196 kalori.

Baca juga: 9 Makanan yang Harus Dihindari Penderita Hipertensi

Meski demikian, daging kambing tetap merupakan sumber protein hewani yang sama baiknya dengan daging sapi maupun daging ayam.

Total protein hewani dalam 100 gram daging kambing kurang lebih mencapai sekitar 20 gram, sementara daging sapi 25 gram dan daging ayam 30 gram.

"Satu porsi daging kambing 100 gram sudah dapat mencukupi hampir 50 persen kebutuhan protein harian tubuh," tulis dr. Umar Zein, dkk.

Dalam buku Mengatasi Permasalahan Praktis Beternak Kambing (2015) karya Agus Susanto dan Maloedyn S., juga dijelaskan bahwa kandungan kolesterol daging kambing ternyata hampir sama dengan daging sapi, domba, maupun ayam.

Daging kambing mengandung kolesterol sebanyak 76 mg persen, sedangkan daging sapi, ikan, domba adalah 70 mg persen dan daging ayam yakni 60 mg persen.

Teknik memasak yang salah

Makan daging kambing bisa jadi berbahaya bagi kesehatan karena pengaruh cara memasaknya.

Di Indonesia, banyak orang memasak daging kambing dengan cara digoreng lebih dulu sebelum diolah lebih lanjut.

Selain itu, daging kambing kerap juga disajikan dengan cara dipanggang dan dibakar untuk dijadikan sate atau kambing guling.

Seperti diketahui, memasak dengan cara digoreng, dibakar atau dipanggang dapat meningkatkan kalori makanan daripada versi mentahnya.

Baca juga: Hipertensi: Gejala, Faktor Risiko, Bahaya, dan Cara Mengobati

Terlebih lagi, mengolah daging dengan cara-cara tersebut jelas membutuhkan banyak minyak goreng, mentega, atau margarin yang akan berubah menjadi lemak yang kemudian diserap oleh daging.

Selain itu, suhu panas ketika menggoreng atau memanggang dapat membuat kandungan air di dalam daging menguap hilang dan digantikan oleh lemak dari mintak.

Lemak yang terserap di daging inilah yang akhirnya menyebabkan makanan yang tadinya mengandung rendah kalori menjadi tinggi kalori.

Peningkatan kalori pada daging kambing setelah dimasak bahkan bisa mencapai 64 persen dari kalori sebelumnya.

Sementara, asupan tinggi kalori dalam tubuh akan diubah menjadi lemak. Lemak itulah yang lama kelamaan bisa menumpuk di pembuluh darah sehingga menyebabkan pembuluh darah menyempit dan meningkatkan tekanan darah.

Di samping itu, penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak daging kambing juga secara tidak langsung dapat menjadi faktor pemicu datangnya masalah tekanan darang tinggi.

Bumbu atau bahan penyedap seperti kecap, garam, dan micin diketahui cenderung mengandung soium tinggi dan pengawet yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan.

Baca juga: Bagaimana Hipertensi Bisa Sebabkan Kematian?

Daging kambing juga sering diolah menjadi makanan bersantai, seperti gulai kambing, kari kambing, maupun rendang kambing.

Santan memang secara alami tidak mengandung kolesterol, namun perlu juga diwaspadai karena kandungan lemak jenuhnya yang tergolong cukup tinggi.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X