Kompas.com - 07/05/2021, 16:00 WIB

KOMPAS.com- Badai sitokin seringkali disebut sebagai penyebab kematian banyak orang selama pandemi Covid-19 ini.

Sebenarnya, badai sitokin ini bukanlah nama sebuah penyakit.

Badai sitokin merupakan sindrom yang mengacu pada sekelompok gejalamedis di mana sistem kekebalam tubuh mengalami terlalu banyak peradangan.

Akibatnya, organ gagal berfungsi dan memicu kematian.

Baca juga: Thalasemia: Gejala, Penyebab, hingga Metode Pengobatan

Sebenarnya apa itu badai sitokin?

Badai sitokin juga tak hanya terjadi pada pasien yang mengalami Covid-19.

Sindrom ini juga bisa dialami oleh penderita autoimun seperti artritis juvenile.

Badai sitokin juga bisa terjadi selama beberapa jenis pengobatan kanker.

Biasanya, kondisi ini dipicu oleh infeksi seperti influensa.

Penelitian terhadap pasien influenza H1N1 juga menemukan 81 persen mereka yang meninggal mengalami gejala badai sitokin.

Bagaimana efek badai sitokin pada tubuh?

Merangkum hasil penelitian ahli virolohi dan imunologi dari Georgia State University di Atlanta, MUkesh Kumar, badai sitokin dipicu oleh infeksi virus dalam tubuh.

Virus menggandakan dirinya dengan sangat cepat setelah menginfeksi sel. Setelah itu, sel mulai mengirim sinyal bahaya.

Ketika setiap sel merasakan bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi, sel akan langsung meresponnya dengan membunuh dirinya sendiri.

"Ini adalah mekanisme perlindungan sehingga tidak menyebar ke sel lain," ucap Khumar.

Jika ada banyak sel yang melakukan hal ini pada saat bersamaan, banyak jaringan yang bisa mati.

Pada pasien Covid-19, jaringan tersebut sebagian besar berada di paru-paru.
Saat jaringan rusak, dinding kantung udara kecil paru-paru menjadi bocor dan berisi cairan.

Kondisi ini bisa menyebabkan pneumonia dan darah kekurangan oksigen.

Baca juga: Sindrom Guillain-Barre: Gejala, Penyebab, dan Komplikasi

Ketika paru-paru rusak parah, sindrom gangguan pernapasan akan terjadi. Kemudian organ lain mulai gagal berfungsi.

Menurut Kumar, jumlah sitokin yang diproduksi oleh sel sebagai respons terhadap infeksi Covid-19 sekitar 50 kali lebih tinggi daripada infeksi virus Zika atau West Nile.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.