Kompas.com - 09/03/2014, 11:18 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Hipertensi merupakan faktor risiko dari banyak penyakit mematikan antara lain stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan penyakit-penyakit lainnya. Karena itu pengobatan hipertensi merupakan hal yang penting untuk dilakukan, selain perubahan gaya hidup. Namun, mungkinkah hipertensi sembuh hanya dengan mengubah gaya hidup?
 
"Perubahan gaya hidup seperti mengurangi berat badan, mengatur pola makan, olahraga teratur, menghentikan kebiasaan merokok atau minum alkohol memang mampu mengurangi tekanan darah," ujar dokter spesialis ilmu penyakit dalam Suhardjono dalam konferensi pers "The 8th Annual Meeting of Indonesian Society of Hypertension", di Jakarta, Jumat (7/3/2014).
 
Suhardjono menjelaskan, diet dan pengontrolan berat badan menurunkan sistol dan diastol 6/4,8 mmHg, pengurangan konsumsi garam 5,4/2,8 mmHg, pengurangan konsumsi alkohol bagi peminum berat 3,4/3,4 mmHg.
 
Selain itu, diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) atau pola makan guna memperbaiki hipertensi dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 11,4/5,5 mmHg, aktivitas fisik 3,1/1,8 mmHg, terapi rileksasi 3,7/3,5 mmHg, intervensi multipel 5,5/4,5 mmHg.
 
"Mengubah gaya hidup saja sebenarnya hasilnya cukup baik untuk mengurangi tekanan darah. Misalnya dengan mengurangi berat badan jika tekanan darah yang tadinya 160/90 mmHg bisa berkurang menjadi 154/85,5 mmHg," tutur dokter subspesialis ginjal hipertensi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) ini.
 
Kendati demikian, lanjut dia, jika tekanan darah terlalu tinggi akibat hipertensi yang dialami sudah mengalami komplikasi, maka  obat-obatan menjadi solusinya.

"Untuk hasil optimal pengobatan hipertensi membutuhkan obat-obatan serta perubahan gaya hidup sekaligus," ujarnya.

 
Hipertensi merupakan kondisi yang membutuhkan penanganan yang serius. Prevalensi hipertensi di Indonesia cukup tinggi. Menurut National Basic Health Survey 2013, prevalensi hipertensi di kelompok usia 15-24 tahun adalah 8,7 persen; pada kelompok usia 25-34 tahun adalah 14,7 persen; 35-44 tahun 24,8 persen; 45-54 tahun 35,6 persen; 55-64 tahun 45,9 persen; 65-74 tahun 57,6 persen, dan lebih dari 75 tahun adalah 63,8 persen.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kutil

Kutil

Penyakit
7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

Health
Amnesia

Amnesia

Penyakit
9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

Health
Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Health
Hepatitis D

Hepatitis D

Penyakit
16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

Health
Keseleo

Keseleo

Penyakit
6 Pantangan Makanan Setelah Sunat

6 Pantangan Makanan Setelah Sunat

Health
11 Gejala Kecemasan pada Anak yang Tidak Boleh Disepelekan

11 Gejala Kecemasan pada Anak yang Tidak Boleh Disepelekan

Health
12 Cara Mengobati Ambeien Berdarah secara Alami, Obat, dan Operasi

12 Cara Mengobati Ambeien Berdarah secara Alami, Obat, dan Operasi

Health
Hamil di Atas Usia 35 Tahun Berisiko Tinggi, Begini Cara agar Tetap Sehat

Hamil di Atas Usia 35 Tahun Berisiko Tinggi, Begini Cara agar Tetap Sehat

Health
Infeksi Payudara

Infeksi Payudara

Penyakit
Gejalanya Mirip, Ini Beda Gangguan Kepribadian Ambang dan Bipolar

Gejalanya Mirip, Ini Beda Gangguan Kepribadian Ambang dan Bipolar

Health
Sindrom Brugada

Sindrom Brugada

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.