Kompas.com - 25/09/2014, 11:17 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

Teicholz mengambil referensi dari sebuah studi terhadap penderita diabetes melitus dalam jurnal PLOS ONE. Para pasien dibagi ke dua golongan diet, diet tinggi lemak tapi rendah karbohidrat dan yang kedua, diet standar untuk diabetes, yakni rendah lemak.

Hasilnya, mereka yang mengikuti pola diet pertama berhasil menurunkan berat badan dua kali lipat dan mengurangi waktu pengobatan mereka empat kali lebih cepat.

"Faktanya, lemak tidak membuat Anda gemuk atau diabetes," kata Teicholz. Ia mengalami sendiri saat sedang menulis penilaian sebuah restoran. Di sana, ia memakan pate (pasta daging), daging sapi, dan saus krim. "Yang mengejutkan adalah, berat badan saya yang sangat stabil bertahun-tahun ini turun sebanyak 4,5 kg. Tingkat kolestrol saya tidak bertambah, dan pola makan saya menjadi berubah," cerita Teicholz.

Ia kemudian menghabiskan 10 tahun untuk mempelajari literatur sains terkait topik tersebut. "Saya kaget bahwa ternyata ada yang hilang dari dasar segala hukum tentang nutrisi ini, bahwa selama 50 tahun ini, orang sudah dilarang untuk makan makanan yang sehat dan enak ini," ungkapnya.

Riset awal

Pemberian label buruk terhadap lemak jenuh dimulai dari seorang ahli jantung, Ancel Keys. Teorinya mengatakan bahwa lemak meningkatkan kolestrol yang menyumbat pembuluh darah. Ia memiliki teori 7 negara yang mengukur peringkat konsumsi lemak, makin tinggi asupannya, makin tinggi angka serangan jantungnya. Sejak saat itu, hipotesis Keys telah menjadi aturan nutrisi baru bagi Amerika dan Inggris.

Lemak jenuh dalam makanan olahan kini telah digantikan dengan lemak trans. Lemak yang satu ini dibuat dari minyak sayur tidak jenuh yang bentuknya cair pada suhu ruangan. Bila akan digunakan untuk memanggang kue, minyak ini akan dibuat mengeras dengan proses hidrogenasi.

Namun lemak trans punya sejumlah efek berbahaya, termasuk meningkatkan kolestrol jahat dan menurunkan kolestrol baik. Belakangan ini, beberapa produsen memang menghilangkan lemak trans dari produknya dan menggantinya dengan cara baru untuk membuat minyak sayur padat. Sayangnya, dalam suhu tinggi minyak sayur tersebut akan memproduksi radikal bebas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Dailymail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.