Kompas.com - 12/08/2015, 15:22 WIB
ILUSTRASI: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)    KOMPAS/PRIYOMBODOILUSTRASI: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
|
EditorBestari Kumala Dewi

 JAKARTA, KOMPAS.com – Adanya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara yang tersebar di Indonesia mengancam kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU batubara. Sejak adanya PLTU batubara yang beroperasi di suatu daerah, masyarakat akan terpapar polusi udara yang dihasilkan dari PLTU batubara setiap harinya.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Harvard, polusi udara yang dihasilkan PLTU batubara di Indonesia dapat menyebabkan kematian dini sekitar 6500 jiwa per tahun.

“Emisi dari PLTU batubara itu membentuk partikel  dan ozon yang berdampak buruk bagi kesehatan,” ujar peneliti dari Universitas Harvard Profesor Shannon Koplitz melalui video conference dalam jumpa pers yang dilakukan Greenpeace Indonesia di Jakarta, Rabu (12/8/2015).

Kematian dini terjadi karena penyakit stroke sekitar 2700 orang, jantung iskemik sekitar 2300 orang, kanker paru-paru  sekitar 300 orang, penyakit paru obstruktif kronik sekitar 400 orang, dan penyakit pernapasan serta kardiovaskular lainnya sekitar 800 orang.

“Kebanyakan dampaknya terjadi dekat PLTU. Di kota-kota yang dekat. Polusinya itu tinggal di udara selama beberapa hari,” lanjut ahli batubara dan polusi udara Greenpeace Lauri Myllyvirta.

Dampak buruk adanya PLTU batubara yang berada tak jauh dari pemukiman memang dapat dirasakan langsung oleh warga. M Bakri, warga Desa Tubanan, Jepara, Jawa Tengah misalnya. Menurut Bakri, polusi dari PLTU batubara tak hanya di udara, tapi juga di perairan.

"Kalau orang sini pasti merasakan sakitnya, enggak merasakan enaknya. Ada debu, pertama kali yang kena ya warga sini. Kalau ada kebocoran limbah, lewat air, tanah, ya warga juga yang kena," ujar Bakri dalam video testimoni yang diputar Greenpeace Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karsalim, warga Desa Ngelo, Jepara pun terpaksa pindah rumah agar jauh dari polusi udara PLTU batubara. Keputusan itu diambil Karsalim, karena anaknya terus sakit dan sering sesak napas sejak tinggal di rumah yang dekat dengan kawasan PLTU batubara.

"Kata dokter, kalau lama-lama malah bahaya. Gimana caranya supaya anak sehat, kalau saya punya rumah di sini, dari pada anak saya enggak sehat, buat apa?" ungkap Karsalim.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan permodelan atmosfer GEOS-Chem, yaitu model mutakhir untuk mengestimasi level polusi di udara. Peneliti melihat polusi udara di kawasan sekitar 42 PLTU yang beroperasi di Indonesia, seperti di Jepara, Banten, dan Batam.  

Bahkan, polusi udara akibat PLTU batubara di Indonesia juga menyebar ke negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Polusi PLTU batubara di Indonesia juga diperkirakan menyebabkan 600 jiwa kematian dini di negara tetangga

Penelitian ini juga menggunakan data Global Burden Disease Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya tentang risiko penyakit yang terkait polusi udara. Seperti diketahui, PLTU batubara menghasilkan polutan beracun di udara seperti merkuri, timbal, arsenik, kadmiun, dan partikel halus lainnya.

Partikel halus berukuran PM 2.5 tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru hingga aliran darah dan akhirnya berdampak buruk bagi kesehatan, seperti risiko penyait jantung, stroke, dan masalah pada paru-paru. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9 Gejala Anemia pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

9 Gejala Anemia pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

Health
Herpes Genital

Herpes Genital

Penyakit
Hubungan Anemia dan Gagal Jantung yang Penting Diketahui

Hubungan Anemia dan Gagal Jantung yang Penting Diketahui

Health
Sindrom Kompartemen

Sindrom Kompartemen

Penyakit
Menopause Dini pada Wanita Terjadi Pada Usia Berapa?

Menopause Dini pada Wanita Terjadi Pada Usia Berapa?

Health
Cacat Intelektual

Cacat Intelektual

Penyakit
6 Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah Penyakit Jantung

6 Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah Penyakit Jantung

Health
Hepatitis A

Hepatitis A

Penyakit
11 Tanda Gagal Jantung dan Penyebabnya

11 Tanda Gagal Jantung dan Penyebabnya

Health
Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner

Penyakit
9 Jenis Gagal Jantung yang Harus Diketahui

9 Jenis Gagal Jantung yang Harus Diketahui

Health
Intoleransi Gluten

Intoleransi Gluten

Penyakit
6 Penyebab Aterosklerosis yang Perlu Diwaspadai

6 Penyebab Aterosklerosis yang Perlu Diwaspadai

Health
Nyeri Tumit

Nyeri Tumit

Penyakit
6 Manfaat Tidur Terlentang yang Jarang Diketahui

6 Manfaat Tidur Terlentang yang Jarang Diketahui

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.