Kompas.com - 04/05/2016, 16:15 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie rasanya tak pernah kehabisan cerita bersama almarhumah istrinya, Hasri Ainun Habibie.

Kali ini Habibie menceritakan Ainun yang aktif dalam bakti sosial operasi mata katarak. Habibie mengaku sering diajak Ainun melihat operasi katarak gratis.

"Saya suka diajak Ainun, 'Ayo ikut lihat orang-orang yang katarak. Operasinya cepat pak.' Tidak ruwet. Saya lihat sendiri," kata Habibie dalam jumpa pers CSR Sepuluh Ribu Mata Pollux Habibie International di ruang perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta Selatan, Selasa (3/5/2016).

"Saya tidak pernah berpisah dengan Ibu Ainun. Ibu Ainun selalu di hati saya," lanjutnya.

Katarak adalah kekeruhan lensa yang bisa menyebabkan kebutaan. Menurut Habibie, orang yang sebelumnya bisa melihat, kemudian terkena katarak akan mengalami penurunan kualitas hidup. Apalagi jika terjadi pada usia produktif.

Karena itu, Habibie mengingatkan pentingnya operasi katarak untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. 

"Kalau tiba-tiba buta, Anda jadi tergantung orang lain. Produktivitas langsung anjlok. Anda tadinya mandiri, tiba-tiba jadi enggak mandiri lagi. Mau ke toilet, diantar," kata pria berusia 79 tahun itu.

Menurunnya produktivitas, lanjut Habibie, membuat seseorang tak bisa memberikan sumbangsih kepada bangsa.

"Saya lama saksikan sendiri. Ada orang muda katarak. Dia seorang guru, punya keluarga. Setelah dioperasi, cepat dia bisa lihat, bekerja lagi," ujar Habibie.

Untuk itu, operasi katarak gratis dilakukan oleh Pollux Habibie International. Operasi pertama akan menjangkau pasien katarak di Batam.

Komisaris Pollux Habibie International, Ilham Habibie mengatakan, telah menargetkan 10.000 mata katarak dapat dioperasi tahun ini.

Menurut Ilham, CSR ini juga dilakukan untuk meneruskan cita-cita Ainun.

Katarak hingga saat ini masih menjadi penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, setiap tahunnya ada 1000 penderita katarak baru atau 0,1 persen.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Deddy Kuswenda mengungkapkan, Indonesia sebagai negara tropis mendapat paparan sinar ultraviolet lebih tinggi, sehingga lebih berisiko katarak. Dengan begitu, masyarakat Indonesia berisiko 15 tahun lebih cepat terkena katarak.

"Prevalensi katarak 1,8 persen yang tertinggi di Sulawesi Utara," kata Dedi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.