Kompas.com - 11/09/2020, 07:32 WIB
Diare terlalu sering pada anak meningkatkan risiko stunting Dok. ShutterstockDiare terlalu sering pada anak meningkatkan risiko stunting

KOMPAS.com – Gizi buruk adalah salah satu hal yang menjadi masalah global, termasuk di Indonesia.

Pemenuhan gizi yang belum tercukupi baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir, dapat menyebabkan terjadinya berbagai masalah kesehatan, baik pada ibu maupun bayinya.

Salah satu gangguan kesehatan yang berdampak pada bayi atau anak adalah stunting atau tubuh pendek akibat kurang gizi kronik.

Baca juga: 8 Bahaya Suka Marah untuk Kesehatan Fisik

Tak ada satu pun penelitian yang menyatakan bahwa keturunan memegang faktor yang lebih penting daripada gizi dalam hal pertumbuhan fisik anak.

Hal ini bisa menangkal persepsi masyarakat yang pada umumnya menganggap pertumbuhan fisik sepenuhnya dipengaruhi faktor keturunan.

Pemahaman keliru itu kerap menghambat sosialisasi pencegahan stunting yang semestinya dilakukan dengan upaya mencukupi kebutuhan gizi sejak anak dalam kandungan hingga usia 2 tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bahaya stunting tak hanya bikin anak bertubuh pendek

Pada 2018, 3 dari 10 balita di Indonesia dilaporkan mengalami stunting atau memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya.

Kondisi ini jelas perlu diwaspadai.

Tak hanya bertubuh pendek, efek domino pada balita yang mengalami stunting bisa lebih kompleks.

Baca juga: 14 Makanan yang Mengandung Vitamin C Tinggi

Selain persoalan fisik dan perkembangan kognitif, balita stunting juga berpotensi menghadapi persoalan lain di luar itu.

Stunting bukan berarti gizi buruk yang ditandai dengan kondisi tubuh anak yang begitu kurus.

Faktanya, yang sering kali terjadi, anak yang mengalami stunting tidak terlalu kentara secara fisik.

Anak atau balita stunting pada umumnya terlihat normal dan sehat.

Namun, jika ditelisik lebih jauh ada aspek-aspek lain yang justru jadi persoalan.

Di mana, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang tidak optimal.

Sebagai contoh, kalau anak lain bisa tumbuh ke atas, anak dengan stunting justru tumbuh ke samping.

Kondisi ini kemudian berisiko terhadap penyakit tidak menular di Indonesia, seperti diabetes atau obesitas.

Tak hanya itu, sayangnya, faktor stunting yang dialami sejak kecil kerap kali dapat menyulitkan anak untuk mendapatkan pekerjaan ketika dewasa karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

Baca juga: 9 Makanan yang Mengandung Kalsium Tinggi

Cara mencegah stunting pada anak

Jumlah penderita stunting di Indonesia menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, memang terus mengalami penurunan.

Tetapi langkah pencegahan stunting harus terus dilakukan untuk menekan angka tersebut.

Stunting pada anak dapat dicegah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau bisa disebut juga sebagai periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

Berikut ini adalah beberapa cara mencegah stunting pada anak yang disarankan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI lewat laman resminya:

1. Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil

Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan.

Pemerintah menyarankan agar ibu yang sedang mengandung selalu mengonsumsi makanan sehat nan bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter.

Selain itu, wanita yang sedang menjalani proses kehamilan juga sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.

Baca juga: 9 Jenis Vitamin dan Mineral yang Disarankan untuk Ibu Hamil

2. Beri ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

Air susu ibu (ASI) dapat mengurangi peluang stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro.

Oleh karena itu, ibu menyusui disarankan untuk tetap memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada sang buah hati.

Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.

3. Dampingi ASI eksklusif dengan MPASI sehat

Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan makanan pendamping ASI (MPASI).

Dalam hal ini pastikan makanan-makanan yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal dari ASI untuk mencegah stunting.

Baca juga: 5 Alasan Bayi di Bawah Usia 6 Bulan Belum Boleh Diberi MPASI

WHO pun merekomendasikan fortifikasi atau penambahan nutrisi ke dalam makanan.

Di sisi lain, sebaiknya ibu berhati-hati saat akan menentukan produk tambahan tersebut.

Akan lebih baik jika orangtua berkonsultasi dulu dengan dokter untuk menentukan penambah nutrisi yang akan diberikan kepada anak.

4. Terus memantau tumbuh kembang anak

Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak.

Bawa si kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak.

Dengan begitu, akan lebih mudah bagi orangtua untuk mengetahui gejala awal, gangguan, maupun penanganan stunting jika terjadi.

5. Selalu jaga kebersihan lingkungan

Seperti yang diketahui, anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama kalau lingkungan sekitar mereka kotor.

Faktor ini pula yang secara tak langsung dapat meningkatkan peluang stunting pada anak.

Diare dilaporkan menjadi faktor ketiga yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan tersebut.

Sementara itu, salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Baca juga: Penyebab Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Gangguan Makan
Gangguan Makan
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

11 Gejala Kecemasan pada Anak yang Tidak Boleh Disepelekan

11 Gejala Kecemasan pada Anak yang Tidak Boleh Disepelekan

Health
12 Cara Mengobati Ambeien Berdarah secara Alami, Obat, dan Operasi

12 Cara Mengobati Ambeien Berdarah secara Alami, Obat, dan Operasi

Health
Hamil di Atas Usia 35 Tahun Berisiko Tinggi, Begini Cara agar Tetap Sehat

Hamil di Atas Usia 35 Tahun Berisiko Tinggi, Begini Cara agar Tetap Sehat

Health
Infeksi Payudara

Infeksi Payudara

Penyakit
Gejalanya Mirip, Ini Beda Gangguan Kepribadian Ambang dan Bipolar

Gejalanya Mirip, Ini Beda Gangguan Kepribadian Ambang dan Bipolar

Health
Sindrom Brugada

Sindrom Brugada

Penyakit
8 Penyebab Mata Gatal di Malam Hari

8 Penyebab Mata Gatal di Malam Hari

Health
Lichen Planus

Lichen Planus

Penyakit
Kok Bisa Hasil Test Pack Keliru?

Kok Bisa Hasil Test Pack Keliru?

Health
Bercak Mongol

Bercak Mongol

Penyakit
Amankah Melakukan Vaksinasi Flu saat Sedang Sakit?

Amankah Melakukan Vaksinasi Flu saat Sedang Sakit?

Health
Floaters

Floaters

Penyakit
Mengapa Kolesterol Tinggi Dapat Menyebarkan Sel Kanker?

Mengapa Kolesterol Tinggi Dapat Menyebarkan Sel Kanker?

Health
Anemia Sel Sabit

Anemia Sel Sabit

Penyakit
14 Gejala Faringitis yang Perlu Diwaspadai

14 Gejala Faringitis yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.