3. Pertumbuhan bayi lambat atau bahkan menurun
Hipertensi telah terbukti dapat menyebabkan pertumbuhan bayi dalam kandungan melambat atau menurun.
Kondisi ini dikenal sebagai pembatasan pertumbuhan intrauterin (IUGR).
Dalam kondisi ini, ukuran janin ditemukan lebih kecil daripada ukuran rata-rata janin normal sesuai usia kehamilan.
Baca juga: Kenali 9 Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir
4. Cedera pada organ lain
Pada ibu hamil, hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan cedera pada otak, jantung, paru-paru, ginjal, hati, dan organ utama lainnya.
Dalam kasus yang parah, cedera ini bisa mengancam jiwa.
5. Persalinan premature
Terkadang persalinan dini diperlukan atau disarankan oleh dokter untuk mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa saat wanita memiliki darah tinggi selama kehamilan.
6. Penyakit kardiovaskular di masa depan
Preeklamsia dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) pada seorang wanita di masa depan.
Risiko wanita terkena penyakit kardiovaskular di masa depan lebih tinggi jika pernah mengalami preeklamsia lebih dari sekali atau pernah mengalami kelahiran prematur karena memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan.
Baca juga: Berapa Tekanan Darah Normal pada Anak-anak dan Remaja?
Memantau tekanan darah adalah bagian penting dari perawatan prenatal pada ibu hamil.
Jika ibu hamil menderita hipertensi kronis, yakni sudah mengalami hipertensi sebelum memasuki masa kehamilan atau sebelum usia kehamilan 20 minggu, dokter biasanya akan lebih dulu menentukan kategori hipertensi yang dialami.
Hal ini diperlukan salah satunya untuk mendukung proses pengobatan.