Kompas.com - 06/05/2021, 18:03 WIB

KOMPAS.com – Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi di atas nilai normal.

Kadar gula darah pada seseorang sebenarnya berfluktuasi, yakni bisa naik turun sepanjang hari, tergantung dengan asupan makanan dan aktivitas yang dilakukan.

Tapi, baik International Diabetes Federation (IDF), American Diabetes Association (ADA), maupun Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) sama-sama menunjukkan bahwa diagnosis atas diabetes bisa ditegakkan jika kadar gula darah seseorang pada saat puasa di atas 126 mg/dL dan kadar gula darah dua jam sesudah makan mencapai angka di atas 200/dL.

Baca juga: Berapa Kadar Gula Darah Normal dalam Tubuh?

Ketika mengalami situasi itu, siapa saja kiranya perlu segera melakukan langkah-langkah untuk mengontrol kadar gula darah agar jangan sampai timbul komplikasi serius.

Seperti diketahui, diabetes dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan berbagai masalah kesehatan lain yang tak layak dianggap remeh, termasuk stroke.

Secara umum, penderita diabetes bahkan 1,5 kali lebih mungkin untuk bisa mengalami stroke dibandingkan orang tanpa diabetes.

Lantas, bagaimana diabetes bisa menyebabkan stroke?

Dilansir dari Health Line, diabetes dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk membuat insulin atau menggunakannya dengan benar.

Karena insulin memainkan peran penting dalam menarik glukosa ke dalam sel dari aliran darah, penderita diabetes sering kali memiliki terlalu banyak gula dalam darahnya.

Seiring waktu, kelebihan gula ini dapat berkontribusi pada penumpukan gumpalan atau timbunan lemak (plak) di dalam pembuluh yang memasok darah ke leher dan otak. Proses ini dikenal sebagai aterosklerosis.

Baca juga: 8 Gejala Awal Penyakit Diabetes

Jika endapan ini dibiarkan begitu saja, hal itu dapat menyebabkan penyempitan dinding pembuluh darah atau bahkan penyumbatan total.

Ketika aliran darah ke otak berhenti karena alasan apa pun, maka terjadilah penyakit stroke.

Melansir Medical News Today, stroke adalah suatu kondisi di mana pembuluh darah di otak mengalami kerusakan.

Stroke dapat dicirikan oleh sejumlah faktor, termasuk ukuran pembuluh darah yang rusak, pembuluh darah di otak mana yang mengalami kerusakan, dan peristiwa apa yang sebenarnya menyebabkan kerusakan tersebut.

Jenis utama stroke ada tiga, yakni stroke iskemik, stroke hemoragik, dan serangan iskemik transien atau transient ischemic attack (TIA).

Berikut bedanya:

1. Stroke iskemik

Stroke iskemik adalah jenis stroke yang paling umum.

Baca juga: 7 Efek Stroke pada Tubuh yang Perlu Diwaspadai

Stroke ini terjadi ketika arteri yang memasok darah kaya oksigen ke otak tersumbat. Hal ini paling sering terjadi akibat pembekuan darah.

Stroke iskemik dilaporkan memengaruhi sekitar 87 persen kejadian stroke selama ini.

2. Stroke hemoragik

Stroke hemoragik terjadi ketika arteri di otak mengeluarkan darah atau pecah.

Sekitar 15 persen stroke adalah stroke hemoragik.

Stroke hemoragik bisa sangat serius dan bertanggung jawab atas sekitar 40 persen kematian terkait stroke.

3. Serangan iskemik transien

Serangan iskemik transien terkadang disebut sebagai stroke ringan karena aliran darah ke otak tersumbat dalam waktu yang lebih singkat dan tidak menyebabkan cedera neurologis permanen.

Serangan iskemik transien dapat berlangsung dari satu menit hingga beberapa jam (sampai arteri yang tersumbat terbuka kembali dengan sendirinya).

Seseorang tidak boleh mengabaikan serangan iskemik transien. Orang sering menyebut kejadian ini sebagai "peringatan stroke".

Baca juga: 4 Makanan yang Bisa Memicu Stroke

Gejala stroke

Mengenali tanda dan gejala stroke adalah langkah pertama yang penting untuk mendapatkan bantuan seseorang sebelum terlambat.

Dilansir dari WebMD, berikut ini adalah gejala stroke yang paling umum terjadi:

  • Wajah tampak turun pada satu sisi
  • Kelemahan pada satu sisi anggota gerak
  • Kesulitan bicara

Gejala lain yang bisa menandakan stroke termasuk tiba-tiba:

  • Mati rasa atau kelemahan pada wajah atau lengan dan tungkai, terutama jika hanya terjadi di Satu sisi
  • Kebingungan
  • Kesulitan memahami ucapan
  • Kesulitan melihat dengan satu atau kedua mata
  • Pusing
  • Kehilangan keseimbangan atau koordinasi
  • Kesulitan berjalan
  • Sakit kepala parah tanpa alasan yang diketahui

Jika Anda merasa mengalami stroke, segera hubungi layanan darurat terdekat segera. Stroke adalah kondisi yang bisa mengancam jiwa.

Baca juga: 10 Efek Diabetes pada Tubuh yang Layak Diantisipasi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.