RS saat itu hanya didampingi anaknya yang berusia tiga tahun, sementara suaminya masih berada di Malaysia untuk bekerja.
Setelah melahirkan, bayi langsung digendong oleh penumpang lain karena sang ibu masih dalam kondisi pemulihan.
Setelah proses persalinan selesai, Tessa diminta menunjukkan tanda pengenal sebagai bidan dan ia menunjukkan kartu anggota Ikatan Bidan Indonesia.
Ia juga mengapresiasi kecukupan peralatan medis yang disediakan oleh maskapai, yang sangat membantu dalam menangani kondisi darurat tersebut. Tessa bahkan mengalihfungsikan beberapa alat agar lebih optimal.
Di luar peristiwa luar biasa ini, Dr. Tessa adalah dosen di Poltekkes Kemenkes Pontianak. Ia baru saja menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada 2024 melalui beasiswa tugas belajar (Tubel) dari Kementerian Kesehatan dalam waktu 2,5 tahun.
“Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih atas beasiswa dari Tubel Kemenkes yang sangat membantu saya menyelesaikan pendidikan. Saya merasa beruntung menjadi salah satu penerima beasiswa ini sehingga bisa melanjutkan studi hingga jenjang doktoral,” kata Tessa.
Baca juga: Pakar: Ibu Alami Stunting Dapat Melahirkan Bayi Sehat, asal...
Saat ini, Tessa kembali aktif sebagai dosen di Poltekkes Kemenkes Pontianak. Ia juga menjabat sebagai Ketua Bidang 5 di Kolegium Kebidanan, asesor LAMPTKes, serta pengurus daerah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Kalimantan Barat. Ia berharap dapat terus berkontribusi dalam dunia kebidanan, terutama dalam melatih generasi muda agar menjadi tenaga medis profesional yang berkualitas.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan, Yuli Farianti, menyatakan bahwa penghargaan yang diberikan Menteri Kesehatan kepada Tessa merupakan bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam menangani situasi darurat.
“Kejadian ini menjadi bukti bahwa di tengah situasi darurat, ketenangan dan keterampilan tenaga kesehatan seperti Tessa sangat dibutuhkan. Semoga peristiwa ini dapat menjadi inspirasi bagi para tenaga kesehatan lainnya dalam menghadapi tantangan tak terduga di lapangan,” ujar Yuli.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.