Jumat, 24 Maret 2017

Health

dr Andri, SpKJ, FAPM

Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Gangguan Cemas Tak Cuma Bisa Diatasi dengan Obat

Thinkstockphotos Ilustrasi

Selama kurang lebih delapan tahun ini berkecimpung di bidang psikiatri dan banyak berhubungan dengan pasien yang mengalami gangguan kecemasan, saya melihat banyak pasien yang berpikir bisa sembuh dari gangguan cemas hanya dengan menggunakan obat.

Padahal, sebenarnya masalah gangguan cemas adalah masalah yang penyebabnya multifaktorial sehingga penyembuhannya pun melibatkan banyak faktor.

Saya akan mencoba membahas beberapa peranan faktor lain selain obat yang mempunyai kontribusi terhadap perbaikan gejala gangguan cemas.

- Kepribadian
Kita memahami bersama bahwa masalah kejiwaan tidak luput dari kepribadian orang tersebut. Masalah gangguan kejiwaan, terutama cemas, dikaitkan dengan kepribadian perfeksionis atau dalam bahasa kedokteran jiwa disebut anankastik.

Orang yang mengalami gejala kecemasan biasanya memliki kepribadian pencemas, suka dengan keteraturan, mau semua sesuai dengan kehendak dirinya dan tidak sabaran. Jika kepribadian ini tidak diadaptasi dengan baik, maka orang yang mempunyai kepribadian seperti ini akan cenderung lebih sering cemas dan akhirnya menimbulkan masalah gangguan kecemasan.

Untuk bisa sembuh dengan baik, selain diobati dengan obat, pasien juga perlu mengubah kepribadiannya agar bisa lebih relaks dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini akan mengurangi kecemasan pasien.

- Gaya hidup sehat
Banyak pasien yang saya temui pada saat awal mengalami gangguan panik sering kali menjadi ketakutan akan kesehatan tubuhnya. Banyak di antaranya menjadi berhenti merokok dan diet ketat berbagai larangan sampai akhirnya kurus.

Sayangnya, ketika kondisinya membaik pasien kemudian kembali ke gaya hidup tidak sehat seperti merokok, makan sembarangan dan kembali tidur tidak sesuai jam tidur yang disarankan. Inilah yang akhirnya akan menjadi pemicu kembali timbulnya gangguan cemas, walaupun mungkin sudah sembuh awalnya.

- Pemakaian narkoba
Riwayat pemakaian narkoba di masa sebelum mengalami gangguan kecemasan bisa menjadi penghambat kesembuhan. Beberapa pasien dengan latar belakang penggunaan narkotika sebelumnya, apalagi golongan stimulan seperti sabu dan ekstasi lebih sulit untuk sembuh karena memang pengaruhnya terhadap serotonin.

Serotonin sering mengalami masalah jika pasien pernah mempunyai riwayat penggunaan narkotika jenis stimulan dan ini berpengaruh terhadap penyembuhan. Beberapa hal tersebut di atas mempunyai kontribusi terhadap terjadinya gangguan kecemasan dan keberulangannya kembali.

Obat yang digunakan akan memperbaiki gejala gangguan cemas dan membuatnya lebih seimbang. Namun demikian, jangan lupakan untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan juga melakukan perubahan perilaku dan kognitif (daya pikir). Itulah mengapa konseling dan psikoterapi juga mempunyai peran dalam perbaikan gejala gangguan cemas selain daripada obat-obatan.

Semoga informasi singkat ini bermanfaat.

Salam Sehat Jiwa

Penulis: dr Andri, SpKJ, FAPM
Editor : Lusia Kus Anna