Kompas.com - 18/10/2016, 17:37 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Istilah angin duduk sering dianggap sebagai masuk angin yang sangat hebat. Padahal angin duduk bukan masuk angin, melainkan tanda gangguan pada jantung.

Angin duduk, begitu masyarakat Indonesia menyebutnya, memiliki reputasi yang menyeramkan. Alasannya, tak jarang penderitanya berakhir tutup usia.

Angin duduk memang memiliki gejala mirip masuk angin biasa. Tak heran, gejalanya sering disepelekan.

Rosa (28) tak menyangka akan ditinggal suaminya begitu cepat. Setelah dua bulan terakhir mengeluh sering merasa tak enak badan seperti masuk angin, suami Rosa mendadak meninggal dunia.

“Biasanya dikerok untuk menghilangkan rasa tak enak itu meski tak selalu berhasil. Kita pikir itu angin duduk yang emang bandel banget. Lebih bandel dari masuk angin biasa,” ucap Rosa.

Dr. Santoso Karo Karo MPH, Sp. JP, pakar jantung dari Perkumpulan Dokter Kardiovaskuler Indonesia (PERKI) menjelaskan, bahwa angin duduk ini sebetulnya salah kaprah dan harus diluruskan. Yang terjadi sebenarnya adalah penyempitan pembuluh darah di jantung.

“Gejalanya memang menyerupai masuk angin. Dalam dunia medis, gejala ini disebut angina pectoris. Jadi, angina pectoris bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari penyempitan pembuluh darah di jantung,” ucap Dr. Santoso.

Angin duduk, lanjut Dr. Santoso, hanya istilah salah yang dikenal oleh masyarakat awam. Sayangnya, karena anggapan salah itu, masih banyak orang yang mendapat penanganan tak benar.

“Karena dianggap masuk angin, lalu penanganannya dikerok, dioles minyak hangat, dan minum jamu tolak angin. Padahal masalah sebenarnya ada di pembuluh jantung,” kata Dr. Santoso.

Jadi, sambung Dr. Santoso, angina pectoris tak akan sembuh kalau dikerok atau diberi jamu. Solusi satu-satunya hanyalah melonggarkan sumbatan yang terjadi.

Sebetulnya angina pectoris memiliki gejala khas, yakni rasa sakit hebat di dada. Area dada seperti ditekan dan diremas.

Rasa sakit bisa menjalar ke leher dan lengan. Rasa sakit juga bisa menjalar ke ulu hati.

Bisa juga disertai dengan sesak napas dan keringat dingin. Lebih spesifik, ada juga yang mengalami kembung seperti masuk angin atau maag.

Pada kasus angina pectoris, waktu adalah hal yang sangat berharga. Jika terjadi serangan angina pectoris, si penderita punya waktu 30 menit hingga 2 jam untuk diberi pertolongan sebelum otot jantungnya mulai rusak dan nyawanya sulit ditolong.

“Jika mengalami atau menemui orang yang memiliki gejela tersebut, segera periksakan ke dokter atau rumah sakit. Jika dibiarkan, risiko kematian semakin besar,” imbuh Dr. Santoso.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X