Kompas.com - 13/01/2020, 15:30 WIB
Ilustrasi kemoterapi, terapi pengobatan kanker. Ilustrasi kemoterapi, terapi pengobatan kanker.

KOMPAS.com - Beberapa pasien kanker payudara merasakan cemas dan khawatir begitu dokter menyarankan kemoterapi.

Mereka kerap merasa takut dengan efek kemoterapi seperti mual, muntah, rambut rontok, nyeri, dan sebagainya.

Padahal, efek yang dirasakan penderitanya bisa berbeda-beda tergantung kondisi masing-masing.

Untuk memastikannya, pasien kanker payudara bisa berkonsultasi risiko, manfaat, dan efek samping kemoterapi dengan dokter yang menangangi.

Selain itu, pengidap kanker payudara juga perlu membekali diri dengan informasi seputar kemoterapi yang tepat.

Baca juga: Masih Jadi Momok, Berikut 5 Cara Kurangi Risiko Kanker Payudara

Apa itu kemoterapi?

Merujuk laman resmi Kementerian Kesehatan, kemoterapi adalah salah satu jenis pengobatan kanker payudara.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain kemoterapi, pengobatan kanker juga bisa dilakukan dengan bedah, radiasi, terapi hormonal, terapi target, atau dikombinasi.

Pengobatan kemoterapi sebagian besar diberikan melalui pembuluh darah seperti diinfus.

Pasien bisa melakukan kemoterapi sembari tiduran, membaca, atau mendengarkan musik, atau nonton televisi.

Obat yang diberikan untuk kemoterapi sudah melalui serangkaian pengujian untuk memastikan keamanan bagi pasien.

Tak perlu khawatir dengan efek kemoterapi. Dokter dapat memberikan cara atau obat untuk meminimalkan efek proses pengobatan tersebut.

Siapa saja yang perlu kemoterapi?

Melansir laman Breastcancer.org, kemoterapi digunakan untuk mengobati kanker payudara pasien di semua stadium.

Termasuk, untuk mengatasi serangan kanker yang sudah terkontrol dan kembali menyerang area payudara.

Kemoterapi juga digunakan untuk mengatasi kanker payudara yang menyebar ke bagian tubuh lain atau metastasis.

Hal yang penting diperhatikan, perawatan kemoterapi dirancang khusus untuk setiap pasien kanker payudara.

Saat memutuskan obat kemoterapi untuk pasien, dokter akan mempertimbangkan stadium, karakteristik kanker, status menopause, kondisi hamil, sampai perawatan lain yang dijalani.

Kemoterapi untuk pasien kanker payudara stadium awal (stadium I, IIA, IIB, dan beberapa stadium III) biasanya diberikan setelah operasi.

Tujuannya, untuk menghilangkan sisa sel kanker yang kemungkinkan belum bersih setelah pasien dioperasi.

Baca juga: Kenali Faktor Risikonya, Berikut 10 Cara Efektif Mencegah Kanker

Kemoterapi untuk pasien kanker payudara stadium awal juga berfungsi mencegah kanker kembali menyerang.

Di beberapa kasus, kemoterapi diberikan sebelum operasi. Gunanya untuk meminimalkan tumor sehingga jaringan yang diangkat lebih sedikit.

Sedangkan untuk pasien kanker payudara stadium lanjut (beberapa stadium III dan staidum IV), kemoterapi digunakan untuk membasmi sel kanker yang telah menyebar sebanyak mungkin.

Seperti kemoterapi untuk pasien kanker payudara stadium awal, prosedur penanganan untuk pasien stadium lanjut juga berbeda-beda, disesuaikan kondisi masing-masing.

Jika salah satu obat kemoterapi diberikan dan kankernya tidak merespons, dokter kemungkinan merekomendasikan obat berbeda.

Di beberapa kasus, kemoterapi juga acapkali dikombinasikan dengan terapi hormon dan pengobatan lain.

Baca juga: Kanker Kolorektal Ancam Pria Indonesia, Berikut Cara Mencegahnya

Angin segar pengobatan kanker payudara tanpa kemoterapi

Forum pertemuan ahli onkologi di Chicago, Amerika Serikat, pada pertengahan 2018 lalu membahas kemungkinan pengobatan penderita kanker payudara stadium awal tanpa kemoterapi setelah operasi.

Melansir laman Cancer.org, studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine lalu menyatakan, tes genetika dapat membantu pasien kanker payudara dalam kondisi tertentu tanpa kemoterapi.

Kondisi tersebut meliputi status pasien masih dalam stadium awal, kondisi tumor masih kecil, dan belum menyebar ke kelenjar getah bening.

Studi tersebut melibatkan 10.000 pasien kanker payudara HER2-positif (kanker yang disebabkan kelebihan protein human epidermal growth factor receptor 2), dengan kondisi kanker masih stadium awal.

Tumor pasien tersebut diuji secara genetika untuk melihat kemungkinan kanker kembali menyerang setelah perawatan awal.

Dari tes genetika dan pengambilan sampel biopsi tumor pasien, peneliti membuat skor nol sampai 100.

Pasien yang skornya kurang dari atau sama dengan 10, tidak memerlukan kemoterapi.

Skor di atas 25, sudah pasti perlu kemoterapi. Sedangkan skor 11 sampai 25, kebutuhan kemoterapinya masih belum jelas.

"Hasil studi ini dapat menjadi pertimbangan beberapa pasien kanker payudara tahap awal bisa aman tanpa kemoterapi," kata Kathy Albain, MD, salah satu perwakilan peneliti.

Namun, para ahli memperingatkan, angin segar bagi pengobatan kanker payudara tersebut tidak berlaku saat kondisi tumor pasien sudah membesar atau kondisi kanker sudah menyebar (metastasis).

Baca tentang

Sumber Cancer.org
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X