Kompas.com - 15/08/2020, 10:30 WIB

Sementara itu, beberapa wanita dengan PMS juga bisa mengalami penambahan berat badan atau sedikit membengkak.

Hal ini karena terjadi penahanan air di dalam tubuh.

Perubahan hormon selama haid dapat memengaruhi kerja ginjal yang mengatur keseimbangan air dan garam di dalam tubuh.

Kelebihan air di dalam tubuh ini kadang juga bisa menyebabkan gejala PMS, terutama berat badan bertambah, sehingga meningkatkan persepsi negatif dan memperburuk kondisi emosi pada wanita.

Baca juga: 11 Cara Menghilangkan Komedo Secara Alami

Sikluas hormonal juga dapat memengaruhi kadar serotonin, suatu senyawa di otak yang mengatur banyak fungsi, termasuk mood dan sensitivitas terhadap nyeri.

Jika dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami PMS, wanita dengan PMS memiliki kadar serotonin otak lebih rendah pada fase luteal.

Sementara, rendahnya kadar serotonin dikaitkan dengan kondisi depresi.

Teori lain mencoba menjelaskan PMS dapat melibatkan prostaglandin, suatu senyawa kimia tubuh yang merupakan mediator inflamasi atau radang.

Prostaglandin dihasilkan di area-area di mana terjadi PMS, seperti payudara, otak, saluran reproduksi, ginjal, hingga saluran cerna.

Prostaglandin diduga berkontribusi terhadap gejala-gejala PMS seperti kram, payudara sakit, diare, termasuk konstipasi atau sembelit.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.