Kompas.com - 06/03/2021, 18:08 WIB
Ilustrasi obesitas, menghitung BMI, menghitung IMT, Indeks Massa Tubuh. SHUTTERSTOCK/JPC-PRODIlustrasi obesitas, menghitung BMI, menghitung IMT, Indeks Massa Tubuh.

Sementara itu, tidak jauh beda, klasifikasi BMI berdasarkan Asia Pasifik (2000) adalah sebagai berikut:

  • Berat badan kurang: < 18,5 (risiko penyakit rendah)
  • Berat badan normal: 18,5 – 22,9 (risiko penyakit rara-rata)
  • Berat badanlebih: >23 (risiko penyakit meningkat) Pre-obese: 23-24,9 (risiko penyakit meningkat)
  • Obesitas derajat 1: 25-29,9 (risiko penyakit sedang)
  • Obesitas derajat 2 : > 30-3 (risiko penyakit berat)

Jadi, misalnya seseorang memiliki berat badan76 kilogram dan tinggi badan 158 sentimeter, besar BMI-nya adalah 76 dibagi (1,58x1,58)= 30,4.

Karena memiliki BMI lebih dari 30, orang tersebut dapat dikatakan sudah mengalami obesitas derajat 2.

Baca juga: 6 Penyebab Obesitas yang Perlu Diwaspadai

Namun, terkadang, BMI bisa menjadi cara yang culut bagi orang awam untuk mengetahui tingkat kelebihan berat badan atau obesitas mereka.

Selain itu, BMI tidak dapat memperhitungkan otot yang mungkin dimiliki, yang berarti pembacaan salah mungkin terjadi.

Sebagai alternatif, beberapa cara berikut mungkin lebih mudah digunakan dan dipahami dari pembacaan BMI untuk mengetahui status berat badan seseorang:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Lingkar pinggang besar

Konselor nutrisi pemilik Entirely Nourished, Michelle Routhenstein, MS, RD, CDE, CDN, berpendapat cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat adalah dari ukuran pinggangnya.

"Lingkar pinggang yang lebih besar dari 35 inci (88,9 cm) pada wanita dan lebih dari 40 inci (101,6 cm) pada pria tidak hanya dapat menentukan status kelebihan berat badan, tetapi juga menentukan angka yang pasti pada kesehatan seseorang," katanya dilansir dari Health Line.

Menurut dia, ukuran lingkar pinggang di atas angka-angka tersebut bisa menunjukkan lemak perut yang berlebihan, jenis lemak berbahaya yang mengelilingi organ vital, yang meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan sindrom metabolik.

Baca juga: Bagaimana Serat Bisa Bantu Turunkan Berat Badan?

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

6 Gejala Asam Urat yang Perlu Diwaspadai

6 Gejala Asam Urat yang Perlu Diwaspadai

Health
Penis Bengkak

Penis Bengkak

Penyakit
Mengapa Penderita Diabetes Bisa Mengelamai Penglihatan Kabur?

Mengapa Penderita Diabetes Bisa Mengelamai Penglihatan Kabur?

Health
Fibroadenoma

Fibroadenoma

Penyakit
Mengapa Penderita Diabetes Rawan Terkena Gangren?

Mengapa Penderita Diabetes Rawan Terkena Gangren?

Health
Iritabilitas

Iritabilitas

Penyakit
11 Gejala Diabetes yang Perlu Diwaspadai

11 Gejala Diabetes yang Perlu Diwaspadai

Health
Infeksi Saluran Kemih

Infeksi Saluran Kemih

Penyakit
2 Cara Keliru dalam Membersihkan Telinga

2 Cara Keliru dalam Membersihkan Telinga

Health
Bulimia Nervosa

Bulimia Nervosa

Penyakit
3 Cara Aman Membersihkan Telinga

3 Cara Aman Membersihkan Telinga

Health
Aneurisma Aorta

Aneurisma Aorta

Penyakit
Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Mengenal Apa Itu Metode ERACS dan Manfaatnya Usai Persalinan

Health
Bisinosis

Bisinosis

Penyakit
Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Cara Mencegah dan Mengatasi Sakit Leher

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.