Kompas.com - 30/03/2021, 22:05 WIB
Seorang perawat menggendong bayi yang baru lahir yang dilindungi dengan pelindung wajah di tengah wabah virus corona, sebagai ilustrasi. AFP via VOA INDONESIASeorang perawat menggendong bayi yang baru lahir yang dilindungi dengan pelindung wajah di tengah wabah virus corona, sebagai ilustrasi.

SOLO, KOMPAS.com – Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng) dalam beberapa tahun terakhir berhasil menekan prevalensi angka kejadian stunting pada bayi di bawah dua tahun (baduta) tidak lebih dari 5 persen.

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo mencatat angka kejadian stunting baduta pada 2018 hanya mencapai sekitar 3,2 persen atau ditemukan 358 baduta yang mengalami stunting.

Sementara, pada 2019, prevalensi baduta stunting di Solo turun sebanyak 1,81 persen menjadi 1,39 persen. Pada tahun tersebut, terhitung ada sekitar 319 baduta dengan stunting.

Sedangkan pada 2020, angka kejadian stunting baduta naik sedikit menjadi 1,76 persen.

Tapi, dari segi jumlah, baduta dengan stunting pada 2020 masih tergolong lebih rendah ketimbang pada 2019, yakni ada 306 baduta yang didiagnosis menderita stunting.

Untuk kategori bayi usia di bawah 5 tahun (balita), DKK mencatat, prevalensi angka kejadian stunting balita pada 2020 masih tidak lebih dari 10 persen, tepatnya 8,45 persen atau ada sekitar 1.015 balita dengan stunting.

Angka ini pun masih terbilang jauh di bawah angka kejadian stunting pada balita di tingkat Provinsi. Di mana, per Februari 2020, angka kejadian stunting balita di Jateng masih berada di angka sekitar 14,9 persen.

Secara nasional, prevalensi angka kejadian stunting di Solo juga terbilang rendah.

Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2019, diketahu bahwa prevalensi balita stunting pada 2019 masih berada di angka 27,67 persen. Bahkan, angka stunting di Solo masih lebih rendah dari target angka stunting di Indonesia pada 2024 menjadi sebesar 14 persen.

Rendahnya angka stunting di Kota Solo juga diakui oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat.

Baca juga: Jangan Lupakan TB di Tengah Pandemi

Halaman Selanjutnya

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X