Kompas.com - 08/04/2021, 06:03 WIB
Ketua Posyandu RW 008 Nusukan, Banjarsari, Solo, Siti Suwarni, 58, memantau tumbuh kembang salah satu anak di wilayahnya yang diduga mengalami stunting (kerdil), Kamis (1/4/2021). Kegiatan itu adalah bagian dari program Posyandu selama pandemi Covid-19 yang dilaksanakan dengan cara berkunjung dari rumah ke rumah. KOMPAS.com/IRAWAN SAPTO ADHIKetua Posyandu RW 008 Nusukan, Banjarsari, Solo, Siti Suwarni, 58, memantau tumbuh kembang salah satu anak di wilayahnya yang diduga mengalami stunting (kerdil), Kamis (1/4/2021). Kegiatan itu adalah bagian dari program Posyandu selama pandemi Covid-19 yang dilaksanakan dengan cara berkunjung dari rumah ke rumah.

KOMPAS.com – Stunting masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia.

Angka stunting di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir memang menurun.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), angka stunting nasional mengalami penurunan dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 30,8 persen pada 2018.

Sementara itu, berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) yang dilakukan Kemenkes pada 2019, prevalensi angka stunting mengalami penurunan lagi menjadi 27,7 persen.

Meski demikian, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni kurang dari 20 persen.

Pemerintah saat ini tengah berupaya menurunkan angka stunting minimal 3 persen setiap tahun hingga mencapai 14 persen pada 2014.

Guna mencapai target ini, pemerintah telah meluncurkan stratagei nasional percepatan penurunan stunting. Strategi ini menjadi prioritas pemerintah di tingkat pusat maupun daerah.

Dosen Diploma Kebidanan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Erindra Budi Cahyanto, berpendapat peran serta masyarakat sangatlah diperlukan guna menyukseskan program percepatan penurunan stunting.

Baca juga: Ancaman Anak Kerdil Kala Pandemi…

Nah, menurut dia, salah satu ujung tombak kegiatan di masyarakat yang berperan penting dalam penurunan stunting adalah pos pelayanan terpadu (posyandu) anak.

Berikut adalah beberapa kontribusi kader posyandu dalam upaya menurunkan atau mencegah stunting selama ini:

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X