Kompas.com - 30/09/2021, 12:00 WIB
Mengonsumsi makanan tinggi garam menjadi salah satu kebiasaan yang bikin gemuk karena tubuh menjadi lebih mudah kembung saat mengonsumsinya. PIXABAY/BRUNOMengonsumsi makanan tinggi garam menjadi salah satu kebiasaan yang bikin gemuk karena tubuh menjadi lebih mudah kembung saat mengonsumsinya.

KOMPAS.com - Jika Anda orang tua baru, Anda mungkin bertanya-tanya berapa banyak garam yang boleh dimasukkan ke dalam makanan bayi Anda.

Melansir dari Healthline, sementara garam adalah senyawa yang dibutuhkan semua manusia dalam makanan mereka, bayi tidak boleh mendapatkan terlalu banyak karena ginjal mereka yang sedang berkembang belum dapat memprosesnya dalam jumlah besar.

Memberi bayi terlalu banyak garam dari waktu ke waktu dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi.

Dalam kasus yang ekstrem dan jarang terjadi, bayi yang mengonsumsi terlalu banyak garam bahkan dapat berakhir di ruang gawat darurat.

Terlalu banyak garam selama masa bayi dan kanak-kanak juga dapat mempromosikan preferensi seumur hidup untuk makanan asin.

Baca juga: 6 Tips Menurunkan Konsumsi Garam Sehari-hari untuk Kesehatan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, bayi dilahirkan dengan preferensi alami untuk makanan manis, asin, dan rasa umami.

Ditawari makanan asin berulang kali dapat memperkuat preferensi rasa alami ini sehingga mungkin dapat menyebabkan anak Anda lebih suka makanan asin.

Makanan olahan, yang cenderung asin tetapi biasanya tidak kaya nutrisi, mungkin lebih disukai daripada makanan utuh dengan kandungan garam alami yang lebih rendah, seperti sayuran.

Akhirnya, garam dapat menyebabkan tekanan darah bayi Anda meningkat.

Penelitian menunjukkan bahwa efek peningkatan tekanan darah dari garam mungkin lebih kuat pada bayi daripada pada orang dewasa.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Jenis Orang yang Rentan Mengalami Kekurangan Zat Besi

4 Jenis Orang yang Rentan Mengalami Kekurangan Zat Besi

Health
Gastroparesis

Gastroparesis

Penyakit
Apa itu Demensia? Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Apa itu Demensia? Kenali Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Trikotilomania

Trikotilomania

Penyakit
Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Kenali Apa itu Infeksi Liver, Gejala, Penyebab, Cara Mengobatinya

Health
Coccidioidomycosis

Coccidioidomycosis

Penyakit
7 Nutrisi yang Baik untuk Kesehatan Mata, Bukan Hanya Vitamin A

7 Nutrisi yang Baik untuk Kesehatan Mata, Bukan Hanya Vitamin A

Health
Prolaktinoma

Prolaktinoma

Penyakit
Berapa Lama Normalnya Wanita Mengalami Menstruasi?

Berapa Lama Normalnya Wanita Mengalami Menstruasi?

Health
Penis Bengkok

Penis Bengkok

Penyakit
Tentang Covid-19 varian Omicorn yang Harus Kamu Tahu

Tentang Covid-19 varian Omicorn yang Harus Kamu Tahu

Health
Labirinitis

Labirinitis

Penyakit
15 Gejala Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

15 Gejala Blefaritis (Radang Kelopak Mata) yang Perlu Diwaspadai

Health
Bipolar

Bipolar

Penyakit
11 Penyebab Bulu Mata Memutih, Bukan Hanya Penuaan

11 Penyebab Bulu Mata Memutih, Bukan Hanya Penuaan

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.