Kompas.com - 12/05/2022, 20:00 WIB

KOMPAS.com - Akhir-akhir ini tidak sedikit cerita horor yang viral di sosial media dan lalu diangkat menjadi buku dan film, seperti kisah KKN di Desa Penari yang rilis di bioskop pada tanggal 30 April 2022.

Tidak sedikit juga anak-anak kecil dan remaja mulai penasaran dengan hal-hal yang berbau mistis dan mencekam.

Kerap kali terdapat peringatan mengenai batas usia untuk pemirsa yang dapat menyaksikan film tersebut.

Baca juga: Berakibat Fatal, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Anak Stres?

Orang tua pun selalu diingatkan untuk mendampingi dan membatasi tayangan horor untuk anak mereka.

Meskipun itu, ajakan atau tantangan dari teman sebaya, konten acak yang muncul di internet, dan rasa ingin tahu akan mengekspos anak pada konten horor yang menyeramkan.

Efek konten horor pada anak

Namun perlu diketahui, film horor dapat menimbulkan beberapa efek pada kejiwaan seseorang, terutama anak kecil dan remaja.

Efek ini ditemukan pada studi yang dilakukan oleh Harrison dan Cantor dari University of Wisconsin pada 150 mahasiswa di Michigan dan Wisconsin.

Mereka menemukan bahwa 90 persen dari responden melaporkan reaksi ketakutan media yang mereka alami saat masa kanak-kanak atau remaja.

Dalam studi tersebut, 52 persen mengatakan mengalami kesulitan tidur dan gangguan makan serta meningkatnya kecemasan, dan 26 persen turut mengatakan masih mengalami “kecemasan residual” hingga kini.

Dampak Psikologis Pada Anak

Berikut ini beberapa efek negatif pada psikologis anak yang dapat ditimbulkan dari menonton film bergenre horor menurut penelitian oleh Dr. Dhyan Singh pada anak-anak di kota Dharamsala, India.

Baca juga: 4 Tahap Perkembangan Kognitif Anak

Perasaan saat menonton film seram

  1. Menangis atau menjerit
  2. Gemetar
  3. Detak jantung meningkat
  4. Kedinginan dan perasaan melumpuhkan
  5. Berkeringat, menggigil, sesak napas, dan takut akan kematian.

Durasi akan mengingat adegan seram

  1. Kurang dari seminggu
  2. Kurang dari 15 hari
  3. Sampai tiga bulan
  4. Kurang dari seminggu.

Dampak tontonan seram pada anak-anak

  1. Tidak tidur nyenyak selama beberapa malam
  2. Merasa seperti diikuti seseorang
  3. Takut dari kegelapan
  4. Teringat wajah hantu di film
  5. Tetap terbangun sepanjang malam
  6. Menghindari tempat, situasi, dan orang seperti yang digambarkan dalam film horor
  7. Mempengaruhi studi
  8. Perilaku agresif dan membahayakan diri sendiri.

Peran orang tua

Meski tidak dapat dipungkiri bahwa anak akan melihat konten horor setidaknya sekali dalam hidupnya, orang tua dapat mencegah, mengurangi, dan memberikan hiburan bagi mereka yang jauh dari hal-hal menyeramkan.

Baca juga: Anak juga Bisa Depresi, Kenali Tanda-tandanya

Orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut untuk melindungi anak dari film dan konten berbau horor:

  1. Awasi apa yang ditonton anak-anak
    Sering kali muncul video, gambar, atau film horor di televisi atau platform streaming sehingga Anda perlu memperhatikan apa yang anak Anda tonton.

  2. Dampingi anak-anak saat menonton televisi atau bermain online
    Salah satu masalah yang kerap muncul adalah meskipun konten horor yang benar-benar brutal atau gambar kecelakaan yang tidak disengaja biasanya di sensor di televisi, jenis konten tersebut dapat muncul di Internet di mana anak Anda belajar dan bermain online setiap hari.

  3. Gunakan alat untuk memfilter konten pada perangkat yang terhubung ke Internet
    Cara mudah untuk mencegah konten seram untuk bahkan lewat di halaman online yang ditonton anak Anda adalah dengan mengunduh alat untuk menyaring konten tersebut. Tidak hanya konten seram, alat pemfilter juga dapat mencegah konten vulgar untuk muncul.

  4. Ciptakan lingkungan yang ramah bagi anak-anak untuk berbicara dengan nyaman
    Dengan menciptakan lingkungan percakapan yang sehat dan intim antara Anda dengan anak sebagai kebiasaan sehari-hari, anak akan mempercayai dan melihat Anda sebagai pendukung emosional yang kuat.

    Anak akan berbagi cerita tentang apa pun yang dia rasakan seperti kesal, takut, atau bahkan masalah paling sensitif seperti seks, dan dalam hal ini adalah konten horor.

    Sering kali tindakan melukai diri sendiri, bunuh diri, atau gangguan emosi tidak diceritakan karena anak percaya bahwa tidak ada yang akan mendengarkan mereka, atau jika mereka menceritakannya, mereka akan dimarahi oleh orang tua.

Baca juga: Bahaya Sosial Media untuk Anak, Orangtua Wajib Tahu

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.