Kompas.com - 05/10/2021, 18:00 WIB

KOMPAS.com - Syok kardiogenik adalah kondisi mengancam nyawa saat jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh secara tiba-tiba.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh serangan jantung yang parah. Namun, tidak semua penderita serangan jantung mengalami syok kardiogenik.

Kondisi ini langka, tetapi dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Baca juga: Bagaimana Serangan Jantung yang Bisa Sebabkan Kematian?

Melansir mayoclinic, hanya setengah dari sejumlah orang yang mengalami syok kardiogenik selamat saat segera mendapat perawatan.

Gejala

Gejala dan tanda yang muncul pada syok kardiogenik dapat muncul dengan cepat. Gejala dapat meliputi:

  • kebingungan dan kecemasan
  • berkeringat dan ekstremitas dingin, seperti pada jari tangan dan kaki
  • detak jantung cepat tapi lemah
  • jumlah urin rendah atau tidak ada sama sekali
  • kelelahan
  • sesak napas
  • mendadak pingsan atau pusing
  • koma jika tidak ditangani dengan tepat saat mengalami syok kardiogenik yang didahului oleh serangan jantung

Penyebab

Beberapa penyebab syok kardiogenik, meliputi:

Gejala serangan jantung saat tidur, seperti nyeri dada dan muncul keringat dingin penting dikenali untuk dapat dikonsultasikan segera dengan dokter.

  • serangan jantung
  • penyumbatan mendadak pada pembuluh darah paru-paru (emboli paru)
  • penumpukan cairan di sekitar jantung, mengurangi kapasitas isi (tamponade perikardial)
  • kerusakan katup jantung, memungkinkan aliran balik darah (regurgitasi katup mendadak)
  • pecahnya dinding jantung akibat peningkatan tekanan
  • ketidakmampuan otot jantung untuk bekerja dengan baik atau sama sekali
  • aritmia saat bilik bawah jantung berfibrilasi atau bergetar (fibrilasi ventrikel)
  • aritmia saat ventrikel berdetak terlalu cepat (takikardia ventrikel)

Baca juga: Serangan Jantung: Penyebab, Tanda Awal, dan Pertolongan Pertama

Selain itu, faktor risiko seseorang terkena syok kardiogenik melibatkan:

  • orang usia lanjut
  • memiliki riwayat gagal jantung atau serangan jantung
  • memiliki penyumbatan (penyakit arteri koroner) pada beberapa arteri utama jantung
  • memiliki diabetes atau tekanan darah tinggi
  • seorang wanita

Diagnosis

Beberapa tes yang mungkin dilakukan oleh dokter untuk mengetahui jika seseorang mengalami syok kardiogenik, di antaranya:

  • Tekanan darah. Orang dengan syok kardiogenik akan memiliki tekanan darah rendah.
  • Kateterisasi jantung. Sebuah tabung tipis panjang bernama kateter akan dimasukkan ke dalam arteri melalui pergelangan tangan atau selangkangan. Alat ini dapat digunakan untuk melihat jumlah darah yang dipompa jantung pada tiap detakan.
  • Elektokardiogram (ECG/EKG). Untuk melihat aktivitas listrik jantung.
  • Ekokardiogram. Rontgen jantung.
  • Rontgen dada. Untuk melihat jika terdapat cairan pada paru-paru, serta melihat pencitraan jantung dan pembuluh darah terkait.
  • Tes darah. Melihat jumlah oksigen pada darah dan dampak yang terjadi pada organ utama, seperti ginjal dan hati.

Perawatan

Pertama-tama, dokter harus mengetahui penyebab dari syok yang terjadi.

Penanganan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut, dibagi berdasarkan penyebabnya:

Baca juga: 10 Penyebab Serangan Jantung yang Kerap Disepelekan

  • Serangan jantung. Dokter akan memasukan kateter untuk menghilangkan penyumbatan.
  • Aritmia. Dokter akan mencoba memperbaiki aritmia dengan serangan listrik yang alatnya dikenal sebagai defibrilasi atau kardioversi.

Dokter juga mungkin akan memberikan obat-obatan dan mengeluarkan cairan agar tekanan darah dan fungsi jantung kembali normal.

Pencegahan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari terkena syok kardiogenik, di antaranya sebagai berikut.

  • Hindari merokok ataupun terkena asap rokok. Langkah ini dapat mengurangi risiko terjadinya serangan jantung.
  • Memerhatikan berat tubuh ideal. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan syok kardiogenik, seperti tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, dan diabetes.
  • Mengurangi makanan tinggi kolesterol dan lemak jenuh. Lemak jenuh dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
  • Kurangi konsumsi garam. Terlalu banyak garam (natrium) dapat menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh dan membebani jantung. Garam dapat ditemukan di banyak makanan kaleng dan olahan. Pastikan untuk memeriksa label makanan sebelum dikonsumsi.
  • Kurangi konsumsi gula. Dengan cara ini, kalori miskin nutrisi akan berkurang dan berat badan akan tetap terjaga.
  • Batasi konsumsi alkohol. Minum alkohol secukupnya.
  • Olahraga teratur. Olahraga dapat menurunkan tekanan darah serta meningkatkan kesehatan pembuluh darah dan jantung secara keseluruhan.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Dilakukan Setelah Pulih dari Serangan Jantung

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Artikel ini tidak diperuntukkan untuk melakukan self diagnosis. Harap selalu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Indeks Penyakit


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.